<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>cendekia.web.id &#187; KOPEA</title>
	<atom:link href="http://cendekia.web.id/author/kopea/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cendekia.web.id</link>
	<description>Berbagi cerita berbagi berita dan berkarlota</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Sep 2010 02:04:34 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>MOMENTUM BAGI KITA JUGA</title>
		<link>http://cendekia.web.id/2009/04/momentum-bagi-kita-juga.html</link>
		<comments>http://cendekia.web.id/2009/04/momentum-bagi-kita-juga.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Apr 2009 10:25:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KOPEA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar Cendekia]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=974</guid>
		<description><![CDATA[Gegap gempita terasa sesak memenuhi tahun dua ribu sembilan di negeri ini. Hiruk pikuk dan pesta pora seakan tak mau kalah dengan berita nestapa dan bencana. Silih berganti mereka menghiasi media informasi. Sungguh, terasa baru kemarin meriahnya tanggal satu masehi, hijriyah dan imlek. Semaraknya mempertontonkan prosesi masing-masing yang unik satu sama lain. Dan sekarang rakyat sedang disuguhi kemeriahan lain yang langka dan yang berbeda. Ya, pemilihan umum.
Dia langka sebab hanya hadir sekali dalam lima tahun. Dia berbeda karena banyak hal yang lain daripada yang lain. Tidak perlu diragukan lagi, yaitu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">Gegap gempita terasa sesak memenuhi tahun dua ribu sembilan di negeri ini. Hiruk pikuk dan pesta pora seakan tak mau kalah dengan berita nestapa dan bencana. Silih berganti mereka menghiasi media informasi. Sungguh, terasa baru kemarin meriahnya tanggal satu masehi, hijriyah dan imlek. Semaraknya mempertontonkan prosesi masing-masing yang unik satu sama lain. Dan sekarang rakyat sedang disuguhi kemeriahan lain yang langka dan yang berbeda. Ya, pemilihan umum.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">Dia langka sebab hanya hadir sekali dalam lima tahun. Dia berbeda karena banyak hal yang lain daripada yang lain. Tidak perlu diragukan lagi, yaitu ramenya diskusi, debat, adu argumentasi, logika, kampanye serta selebrasi tentang segala instrumen yang terlibat dalam pemilu. Laksana melodi demokrasi yang tetap harmonis dentumannya meski penuh orkestra konflik dan kontroversi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Pemilu Untuk Legitimasi</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">Ini adalah sebuah hipotesa tentang pentingnya pemilu bagi rakyat bangsa ini. Bangsa berketuhanan esa yang menegakkan negaranya pada sendi-sendi demokrasi. Sistem yang konon menjadi pilihan dua pertiga rakyat bumi. Sistem yang memang tidak sempurna tapi paling tidak dapat menyempurnakan desain sistem yang holistik. Maka kesederhanaan hipotesa ini pula demi kesederhanaan proses kita memahami bersama.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">“<em>Legitimasi merupakan hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin. Konsep legitimasi berkaitan dengan sikap yang dipimpin (masyarakat atau kelompok manusia) terhadap kewenangan pemimpin. Artinya, apakah masyarakat menerima dan mengakui hak moral pemimpin untuk membuat dan melaksanakan keputusan yang akan mengikat masyarakat itu atau tidak?? Apabila masyarakat menerima dan mengakui hak moral pemimpin untuk membuat dan melaksanakan keputusan yang akan mengikat mereka nanti, maka dapat dikatakan pemimpin tersebut berlegitimasi. Jadi, legitimasi adalah seberapa besar penerimaan, pengakuan, dan dukungan masyarakat terhadap sistem kepemimpinan beserta produk peraturannya</em>.” (Ramlan, 1992).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">Oleh karena itu maka pemilu absolut. Serupa akta tanah, dia berperan sebagai bukti yang menunjukkan besar kadar legitimasi. Dia adalah cara tunggal mendapatkan legitimasi yang prosedural dan konstitusional. Maka tidak kaget MUI pun ikut khusyuk ber-<em>ijtihad</em> hingga berfatwa bahwa haram menjadi nonpartisan dalam pemilu. Padahal para ulama itu bukannya tidak paham bahwa pemilu dan demokrasi bukan identitas <em>khilafah </em>dalam Islam. Terpenting bagi mereka adalah membuktikan legitimasi dari 200 juta lebih penduduk Indonesia. Yang tentunya sangat jauh berbeda kondisinya ketika waktu itu Abu Bakar dilegitimasi oleh para sahabat yang semuanya sholeh untuk menggantikan kepemimpinan Rasulullah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span> </span>Mengapa legitimasi begitu mutlak? Dan apakah setiap pemimpin (ketua ini-itu, kepala ini-itu, presiden ini-itu, dll) harus menggenggam legitimasi? Sebab dia mendatangkan kestabilan dalam proses kepemimpinan. Kestabilan yang lahir dari pengakuan dan dukungan masyarakat itu membuahkan kemungkinan untuk perubahan sosial ke arah yang semakin positif. Semakin hari semakin menguntungkan masyarakat itu sendiri. Dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Pemilu Untuk IAICG</strong></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">Euforia demokrasi di atas hendaknya menjelma menjadi inspirasi. Sebagai tabiat manusia intelek yang selalu menarik hikmah di setiap situasi. Seperti selalu, berusaha mendalami sesuatu yang baru. Termasuk momentum demokrasi itu sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">Tanpa terasa kita tak kuasa menahan masa. Serasa kemarin almamater tercinta yang telah menempa fondasi nilai, kita tinggalkan. Kita tinggalkan demi petualangan di universitas kehidupan. Seolah tidak capek, dia akan melahirkan satu dasawarsa generasi emas. Sepuluh tahun persaudaraan karena almamater.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span> </span>Ibarat umur sebocah muslim, maka tiba saat komunitas kita di<em>khitan</em>. Momentum penanda dia memasuki gerbang kedewasaan dan kemandirian. Ketika waktu dimana dia mulai dihitung dosa dan pahalanya di mata manusia dan pencipta. Keberadaan dan sumbangsihnya pada lingkungan mulai dinanti dan dinilai. Ya, dinilai, apakah sebatas nama besarnya saja, atau sebatas remeh temeh fasilitas dan sistem pendidikan tiga tahun saja, atau kah pada karya dan pengabdian kolektif sebagai pelunasan investasi yang panjang dari suatu sistem pendidikan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">Maka di usia sepuluh tahun, komunitas ini harus dapat mengartikulasikan jati dirinya, visi, misi, manfaat serta kepentingannya kepada kelompok manusia lain. Ujungnya jelas, yaitu untuk mewarnai corak peri kehidupan di lingkup lingkungan yang lebih besar daripada yang bisa diwarnai oleh pesona individu kita masing-masing.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">Kita disatukan oleh banyak faktor sebagai hasil derivatif dari pergumulan tiga tahun di almamater. Kemiripan nilai dasar yang kita anut tentang sifat, sikap, kepercayaan, kecenderungan, cita-cita, semangat, dan lain-lain akhirnya telah menyepakatkan kita untuk mengorganisasikan diri melalui ikatan alumni (IAICG). Tinggallah kita sebagai kelompok yang terorganisasi harus mengatur sistem interen yang jelas. Kita juga layak memiliki pola kepemimpinan yang moderen dan demokratis, sumber keuangan untuk membiayai kegiatan, dan pola komunikasi dan koordinasi baik ke dalam atau ke luar organisasi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em><span> </span></em>Jika menengok sejarah, memang wadah silaturahmi menjadi alasan semuanya ber-IAICG. Saat itu umur belumlah akil balig. Adalah wajar senantiasa merindukan masa bersama dan bermain dalam ajang silaturahmi. Dan waktu terus berlari. Komunitas terasa hambar. Sebagian mulai sadar bahwa potensi kita terlalu hebat untuk sekedar kumpul-kumpul laksana arisan. Sekarang yang dibutuhkan adalah puncak Himalaya tujuan bersama sebagai pembakar energi dorong semangat penaklukan. Penaklukan akan hal-hal yang besar, sulit, tinggi, tak mungkin, berliku, dan lain sebagainya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span> </span>Katakanlah itu yang disebut konsorsium. Konsorsium usaha ekonomi yang paling masuk akal. Contohkan seperti Bukaka Group, Bakrie Group, dll. Dapatkah dibayangkan cara mewujudkannya jika kita bukanlah penganut budaya korporatisme? Adalah komunikasi, kompromi, negosiasi, administrasi, prosedurasi, <em>team work</em>, musyawarah, mufakat dan masih banyak lagi nilai yang harusnya mulai kita selami. Dan IAICG adalah wadah yang paling terjangkau. Di dalamnya semua dapat berlatih mengorganisasikan diri sebagai sebuah kelompok. Pesertanya akan memulai investasi baru. Mereka mulai menanam waktu pada hal-hal yang mungkin belum terukur nilainya saat ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span> </span>Ringkas cerita, IAICG memang banyak yang tidak membutuhkannya. Namun kacamata rasional nan optimis melihat sebaliknya. Semua dapat menggunakan sarana belajar yang satu ini untuk pertumbuhan individu dan harapan masa depan yang lebih baik. Tinggal menanti saat banyak alumnus yang mengubah sudut pandangnya. Dari yang tadinya sempit dan picik menjadi lebih berwawasan dan positif. Maka di saat itu komunitas alumni akan berubah. Dari rapuh menjadi kokoh. Tercerai berai menjadi bersatu. Kaku menjadi toleran. Curiga menjadi percaya. Egois menjadi kompromi. Tak acuh menjadi cinta kasih. Perhatian, kepedulian, kata pujian dan terima kasih bertaburan di setiap jumpa. Sungguh indah bukan?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span> </span><span> </span>Singkat kata, segalanya mengarah pada tentang apa yang dapat kita lakukan saat ini untuk Ikatan Alumni Insan Cendekia Gorontalo. Panjang lebar di atas hanyalah penghantar untuk semuanya dapat berpikir Besar. Dan almamater menuntut untuk dilakukan banyak hal kecil. Seperti pemilihan umum. Sekali lagi tanpa pemilihan umum, tidak akan pernah kita dapatkan legitimasi yang terukur dan hitam di atas putih dari saudara alumni lainnya. Pemilu adalah kunci pintu keluar dari lorong buntu selama ini. Solusi pantas atas kronis akut yang diderita IAICG sekian waktu. Dengan niat dan upaya maksimal untuk melaksanakannya, InsyaAllah banyak pihak akan menarik hikmah dari momentum ini. Momentum demokrasi. Momentum bagi kita juga.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Terima kasih,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em><br />
</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em>Kami yang belum final.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">NB: <span><a href="http://cendekia.web.id/2008/09/habibie-cendekia-alumni-sebuah-efek-domino.html">HABIBIE, CENDEKIA, &amp; ALUMNI, SEBUAH EFEK DOMINO</a><a href="http://cendekia.web.id/2008/09/habibie-cendekia-alumni-sebuah-efek-domino.html" target="_blank">.</a><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 288pt; text-align: justify;"><em><span> </span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cendekia.web.id/2009/04/momentum-bagi-kita-juga.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HABIBIE, CENDEKIA, &amp; ALUMNI, SEBUAH EFEK DOMINO.</title>
		<link>http://cendekia.web.id/2008/09/habibie-cendekia-alumni-sebuah-efek-domino.html</link>
		<comments>http://cendekia.web.id/2008/09/habibie-cendekia-alumni-sebuah-efek-domino.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 11:38:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KOPEA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=643</guid>
		<description><![CDATA[Mengurai benang merah dari visi besar. 
Perlu tindakan nyata dari pemegang amanah.
 
Buku biografi terbaru pak Habibie yang diulas pada tulisan sebelumnya (13 Sept. by Mhatozzz) layak untuk disimak sejenak di tengah kesibukan beribadah pada bulan puasa ini. Dengan buku tersebut, tabir selama ini tentang asal-usul “cendekia” yang membanggakan ter’update’ lagi kisahnya. Seumpama seorang anak yang bertanya kepada ibunya, “ma, saya lahir kapan? kenapa lahir? lewat mana lahirnya?”. Pertanyaan yang sederhana tapi bisa membingungkan si ibu yang tidak begitu tahu nilai hakikat dari sebuah kejadian. 
Cerita tentang pengabdian habibie yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="IT;" lang="IT"><span style="small;"><span style="Times New Roman;">Mengurai benang merah dari visi besar. </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="IT;" lang="IT"><span style="small;"><span style="Times New Roman;">Perlu tindakan nyata dari pemegang amanah.</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="IT;" lang="IT"><span style="Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="IT;" lang="IT"><span style="small;"><span style="Times New Roman;">Buku biografi terbaru pak Habibie yang diulas pada tulisan sebelumnya (13 Sept. <em>by </em><a href="http://cendekia.web.id/2008/09/13/sebuah-gagasan-perencanaan-yang-tidak-datang-dengan-sendirinya.html" target="_blank">Mhatozzz</a>) layak untuk disimak sejenak di tengah kesibukan beribadah pada bulan puasa ini. Dengan buku tersebut, tabir selama ini tentang asal-usul “cendekia” yang membanggakan ter’<em>update</em>’ lagi kisahnya. Seumpama seorang anak yang bertanya kepada ibunya, “ma, saya lahir kapan? kenapa lahir? lewat mana lahirnya?”. Pertanyaan yang sederhana tapi bisa membingungkan si ibu yang tidak begitu tahu nilai hakikat dari sebuah kejadian. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="IT;" lang="IT"><span style="small;"><span style="Times New Roman;">Cerita tentang pengabdian habibie yang begitu tulus &amp; tinggi mungkin sedikit mengusik telinga pembaca apatis. “<em>Boro-boro</em> mikir Habibie, nih urusan banyak <em>banget</em>, ga ada waktu, banyak masalah di kehidupan saya”. Begitu kalimat yang tak asing dari kenalan alumni yang sedang padat-padatnya kesibukan tugas di kampus atau di tempat kerjanya. Beberapa diantaranya sudah berkeluarga. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="IT;" lang="IT"><span style="small;"><span style="Times New Roman;">Akan tetapi paling tidak, materi-materi tentang visi Habibie lewat program STEP-BPPT (persamaan IPTEK &amp; IMTAK bagi generasi pesantren) sangat bermanfaat dalam menuntun pemahaman para civitas akademika yang seumuran jagung di ‘cendekia’ tentang seperti apa model proses pendidikan optimal yang paling cocok dia lakonkan buat anak didiknya. Bagi para alumnus baru yang rata-rata lulus berijasahkan Depag, visi Habibie akan hasil output yang diharapkan patutlah mereka resapi nilainya karena mereka adalah output itu sendiri. Bagi para <em>dedengkot</em> (alumni &amp; civitas), ini bisa menjadi penyegar pemahaman tentang apa tujuan sebenarnya <em>founding father</em>, yang tentu lebih daripada sekedar meloloskan seratus persen alumni ke PTN di Indonesia atau di luar negeri. Pengabdian yang telah dilakukan Habibie pada bangsa, negara dan agamanya ibarat tongkat estafet yang diamanahkan bagi pelari berikutnya. Ya, pelari yang sudah disiapkan olehnya jauh sebelum hari tuanya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="IT;" lang="IT"><span style="Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="IT;" lang="IT"><span style="small;"><span style="Times New Roman;">Cendekia sekarang </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="IT;" lang="IT"><span style="Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="IT;" lang="IT"><span style="small;"><span style="Times New Roman;"><span style="1;"> </span><em>Segalanya jatuh bangun tergantung pada kepemimpinan</em> (J.C. Maxwell).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="IT;" lang="IT"><span style="small;"><span style="Times New Roman;"><span style="1;"> </span>Semuanya mengakui bahwa institusi yang satu ini berkembang pesat pada semua lini di bawah kendali mantan kepsek bapak Ahmad Hidayatullah selama tujuh tahun kepemimpinannya. Keberhasilan ini pula yang mengantar beliau menuju tanggung jawab yang lebih besar di Serpong dan beberapa tahun lagi mungkin bisa dipercayakan menduduki kursi ‘orang pusat’ di Jakarta. Akan tetapi jika dilihat dari sudut pandang berbeda, ada beberapa mekanisme yang ditinggalkan rapuh oleh beliau diantara segepok kemajuan yang telah diraihnya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="IT;" lang="IT"><span style="small;"><span style="Times New Roman;"><span style="1;"> </span>Sangat sering kita temukan bahwa institusi pendidikan yang besar dan memiliki pengaruh luas bisa dipastikan mempunyai komunitas alumni yang solid dan efektif. Cendekia pun seharusnya sudah memiliki fungsi alumni ini seiring dengan berkembangnya kampus. Salah satu kegagalan kepala sekolah sebelumnya adalah menjadi katalisator pada proses tumbuhnya organisasi alumni. Katalis yang memang bukan sebagai subjek atau objek pada organisasi ini tetapi paling tidak membantu mempercepat solidnya alumni. Misalnya, dengan memberi dorongan, memfasilitasi dengan sumber daya yang dimiliki, mengarahkan, dan lain sebagainya. Suatu investasi yang layak dilakukan Cendekia mengingat banyaknya institusi pendidikan yang mengalami percepatan kemajuan setelah alumninya secara terorganisir memberikan sumbangsih pada almamaternya. Semoga kepala sekolah setelah beliau menjadikan poin ini sebagai warisan tugas yang harus dia selesaikan demi terwujudnya visi besar yang terarah &amp; berkesinambungan dari generasi ke generasi berikutnya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="IT;" lang="IT"><span style="Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="IT;" lang="IT"><span style="small;"><span style="Times New Roman;">Kondisi alumni</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="IT;" lang="IT"><span style="small;"><span style="Times New Roman;"><span style="yes;"> </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="IT;" lang="IT"><span style="small;"><span style="Times New Roman;">Gambaran umum tentang alumni sudah pernah disampaikan secara subjektif pada tulisan sebelumnya (silahkan baca <a href="http://cendekia.web.id/2008/05/31/kopea-koloni-pemrihatin-almamater.html" target="_blank">disini</a>). Yang menarik ditelisik dari komunitas alumni adalah hambatan mental, psikis, dan fisik apa yang kira-kira menghambat organisasi ini berkembang secara sehat serta bisa jauh dari kesan <em>mandek </em>seperti<em> </em>yang selama ini melekat. Ada beberapa dugaan ‘penyakit’ yang menghinggapi para output harapan Habibie ini, antaranya kira-kira sebagai berikut :</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="Times New Roman;"><span style="IT;" lang="IT"><span style="Ignore;"><span style="small;">1.</span><span style="7pt &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="underline;"><span style="IT;" lang="IT"><span style="small;">Sikap Tidak Peduli.</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="PT-BR;" lang="PT-BR"><span style="small;"><span style="Times New Roman;">“<em>toh </em>aku tidak dapat apa-apa dengan adanya organisasi alumni. Ada syukur, gak ada ya ngak apa-apa”. Demikian logika sederhana yang dapat membumihanguskan semangat berkumpul &amp; berserikat anggota komunitas. Semuanya diukur dengan diri sendiri, kepentingan sendiri. Dan biasanya pemikir seperti ini adalah mayoritas. Terbukti, alumni yang punya pendapat tentang masa depan organisasi dan menuangkan pikirannya hanya beberapa orang saja (silahkan baca <a href="http://cendekia.web.id/2008/02/19/aril-berkontribusi-pada-almamater-adalah-yang-terpenting.html" target="_blank">aril</a>, <a href="http://cendekia.web.id/2008/03/12/mia-iaic-bisa-berkembang-menjadi-organisasi-yang-besar.html" target="_blank">mia</a>, <a href="http://cendekia.web.id/2008/03/17/ophien-walaupun-tanpa-iaic-kita-harus-tetap-bersilaturahim.html" target="_blank">ophien</a>, <a href="http://cendekia.web.id/2008/01/29/wawancara-alumni-dody-kurniawan.html" target="_blank">dody</a>, <a href="http://cendekia.web.id/2008/02/04/wawancara-alumni-yudhi-durahman.html" target="_blank">yudhi</a>, <a href="http://cendekia.web.id/2008/02/15/dini-ayu-di-bangku-kuliah-kita-ga-butuh-pinter.html" target="_blank">dini</a>, <a href="http://cendekia.web.id/2008/03/08/abdul-qohar-rezeki-itu-matula-tuladu-mayi.html" target="_blank">qohar</a>). Sebenarnya hal ini dapat dimaklumi karena sudah jamak terjadi dimana saja dan di bidang apa saja. Ilmu pemasaran mengatakan bahwa 20% pelanggan menyumbang 80% dari omset total dan 80% pelanggan hanya menyumbang 20% total omset. Dalam bidang pajak pun dikenal fenomena ini. Faktanya, pajak RI yang nilainya ratusan triliun sebagian besar hanya berasal dari 50 pembayar pajak terbesar di Indonesia. Memang organisasi bukan tentang pemasaran &amp; pajak, tetapi paling tidak info ini dapat menjadi pelipur bagi penggiat IAICG yang hanya segelintir itu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="Times New Roman;"><span style="PT-BR;" lang="PT-BR"><span style="Ignore;"><span style="small;">2.</span><span style="7pt &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="underline;"><span style="PT-BR;" lang="PT-BR"><span style="small;">Sikap Takut Memulai.</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="PT-BR;" lang="PT-BR"><span style="small;"><span style="Times New Roman;">“<em>Ah</em> nanti aja. Paling cocok kalau sudah ada alumni yang jadi pejabat/orang sukses baru IAICG bisa solid &amp; efektif”. Ungkapan ini mengingatkan kemiripannya dengan pokok masalah yang melatarbelakangi ‘penculikan Rengasdengklok’ pada 16 Agustus 1945. Bisa dibayangkan bagaimana nasib kemerdekaan bangsa ini apabila peristiwa itu tidak terjadi? Seandainya para kaum muda pada waktu itu sepakat dengan pemikiran kaum tua bahwa hendaknya kemerdekaan sebaiknya ditunggu saja dari pemberian Jepang, tidak usah diproklamirkan lalu dipertahankan dengan darah &amp; nyawa? Memang urusan IAICG tidaklah sebesar urusan kemerdekaan negara waktu itu, tetapi paling tidak alasan ‘menunggu’ sungguhlah naif dipakai saat anak-anak bangsa lainnya saling berlomba mengejar ketertinggalannya. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="Times New Roman;"><span style="IT;" lang="IT"><span style="Ignore;"><span style="small;">3.</span><span style="7pt &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="small;"><span style="underline;"><span style="IT;" lang="IT">Sikap Tidak Bersedia Dipimpin &amp; Memimpin</span></span><span style="IT;" lang="IT">.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="IT;" lang="IT"><span style="small;"><span style="Times New Roman;">Dialog berikut ini tidak nyata, tapi sering dijumpai alumnus yang mentalnya lebih kurang sama.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em><span style="IT;" lang="IT"><span style="small;"><span style="Times New Roman;">“Ayo yuk aktif di IAICG, kamu juga bisa berkarya lewat IAICG juga<span style="yes;"> </span>silaturrahmi. Pintu rejeki terbuka lebar lho bagi yang rajin silaturahmi..”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="small;"><span style="Times New Roman;"><span style="IT;" lang="IT"><span style="1;"> </span></span><em><span style="PT-BR;" lang="PT-BR">“Ah malas ah, paling orangnya itu-itu aja.”</span></em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em><span style="PT-BR;" lang="PT-BR"><span style="small;"><span style="Times New Roman;">&#8220;Terus emangnya kenapa kalo orangnya itu-itu aja??”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="PT-BR;" lang="PT-BR"><span style="small;"><span style="Times New Roman;"><span style="1;"> </span><span style="yes;"> </span>“<em>Yaa males aja..”</em></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em><span style="PT-BR;" lang="PT-BR"><span style="small;"><span style="Times New Roman;">“Lha iya kenapa males?”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em><span style="PT-BR;" lang="PT-BR"><span style="small;"><span style="Times New Roman;"> “Bosan! Mana mereka itu kan harusnya jadi adik-adik aku..”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em><span style="PT-BR;" lang="PT-BR"><span style="small;"><span style="Times New Roman;">“Atau, gimana kalau kamu yang membina adik-adik itu biar lebih efektif??”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em><span style="small;"><span style="Times New Roman;"> “Males ah. Capek dech&#8230;EGP!!”</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="IT;" lang="IT"><span style="small;"><span style="Times New Roman;">Berita baiknya, alumnus yang seperti ini adalah minoritas. Sebagian karena bawaan hati dan sebagian lagi karena ketidaktahuannya akan kepemimpinan. Seperti halnya penulis hebat yang hampir bisa dipastikan adalah pencinta buku, pembicara yang luar biasa adalah pendengar yang tekun, maka pemimpin yang baik mestinya adalah seorang pengikut yang baik pula. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="IT;" lang="IT"><span style="small;"><span style="Times New Roman;">Sebenarnya tidak akan serumit labirin untuk mendapatkan kader-kader pemimpin di komunitas alumni. Asalkan para alumni mau duduk dan berpikir tentang mekanisme yang representatif dan berjenjang untuk membentuk struktur organisasi yang baik. Misalnya dengan mengoptimalkan kepengurusan di daerah (ada sembilan daerah saat ini) yang akan mewakili suara alumni dari daerah tersebut untuk melahirkan pengurus pusat IAICG. Jadi, tidak perlu lagi mengharapkan mubes yang dihadiri dua pertiga jumlah alumni yang dari tahun ke tahun selalu gagal. Sebagai inovasi, bisa juga dengan membentuk perwakilan angkatan (yang saat ini sudah sembilan angkatan) yang merupakan representasi dari nilai senioritas yang lebih dewasa. Dengan kombinasi dua sub sistem yaitu regional dan senioritas, rasa-rasanya akan sangat mudah bagi komunitas ini untuk sekedar berkongres rutin sebagai syarat wajib organisasi yang sehat demi menghasilkan konsensus-konsensus bersama yang sifatnya stratejik dan berkiblat pada visi besar di atas.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="IT;" lang="IT"><span style="small;"><span style="Times New Roman;">Paragraf di atas bukanlah semata bertujuan membahas politik yang selama ini tabu bagi alumni. Stigma negatif politik terpatri dalam diri siapa saja karena memang politik seperti itu apa adanya. Sebagai bagian dari seni berinteraksi secara sosial kita tidak dapat menghindarinya. Bahkan menurut teman yang kader partai Islam, berpolitik wajib hukumnya dari nabi sebagai wujud dari kekuatan umat Islam. Yang jelas, salah satu fungsi IAICG adalah wadah untuk kita belajar dan wadah menyalurkan karya-karya besar alumni nantinya. Bukan bertujuan dangkal untuk membuat IAICG sekedar organisasi gagah-gagahan bagi pengurusnya. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="IT;" lang="IT"><span style="small;"><span style="Times New Roman;">Secara <em>de yure, </em>‘cendekia’ yang didengungkan berstandar internasional tak berbeda dengan pesantren &amp; madrasah lainnya binaan Depag yang berserakan di seluruh nusantara. Tetapi secara <em>de fakto, </em>semua warga cendekia hendaknya membulatkan tekad bahwa ‘cendekia’ akan tetap, dan harus mempertahankan <em>soul </em>&amp; <em>spirit </em>yang secara tersirat telah diamanahkan Habibie. Selama perjalanan institusi Cendekia ini hingga hari akhir, mencetak generasi-generasi emas di setiap zaman.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="small;"><span style="Times New Roman;"><span style="IT;" lang="IT">Amanah &amp; kepemimpinan pasti dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. </span>Dan setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya masing-masing. Wassalam.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="IT;" lang="IT"><span style="small;"><span style="Times New Roman;">============================================================================</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em><span style="IT;" lang="IT"><span style="small;"><span style="Times New Roman;">Bukan melihat pada siapa yang membawa, </span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em><span style="PT-BR;" lang="PT-BR"><span style="small;"><span style="Times New Roman;">tapi lihatlah pada apa yang dia bawa (pepatah)</span></span></span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cendekia.web.id/2008/09/habibie-cendekia-alumni-sebuah-efek-domino.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KOPEA ; KOloni PEmrihatin Almamater</title>
		<link>http://cendekia.web.id/2008/05/kopea-koloni-pemrihatin-almamater.html</link>
		<comments>http://cendekia.web.id/2008/05/kopea-koloni-pemrihatin-almamater.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 May 2008 19:47:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KOPEA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Ringan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cendekia.web.id/?p=402</guid>
		<description><![CDATA[Ya, KOloni PEmrihatin Almamater. Kami sebut begitu untuk kami dan teman-teman lainnya yang sering saling bertemu dan berbincang di berbagai kesempatan. Dalam frase positif, mereka sebenarnya adalah KOmunitas PEmerhati Alumni yang senantiasa mengikuti perkembangan alumni dan almamaternya baik secara langsung atau tidak langsung. Ibarat seperti anggota sebuah keluarga besar. Satu sama lain selalu ingin tahu seperti apa kabar saudara dan kerabatnya meski tinggal nun jauh disana. Mereka ada di saat halal bi halal tahunan yang membuat kita bisa berkunjung ke sekolah atau di acara ulang tahun, nikah, syukuran, atau sekedar ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ya, KOloni PEmrihatin Almamater. Kami sebut begitu untuk kami dan teman-teman lainnya yang sering saling bertemu dan berbincang di berbagai kesempatan. Dalam frase positif, mereka sebenarnya adalah KOmunitas PEmerhati Alumni yang senantiasa mengikuti perkembangan alumni dan almamaternya baik secara langsung atau tidak langsung. Ibarat seperti anggota sebuah keluarga besar. Satu sama lain selalu ingin tahu seperti apa kabar saudara dan kerabatnya meski tinggal nun jauh disana. Mereka ada di saat halal bi halal tahunan yang membuat kita bisa berkunjung ke sekolah atau di acara ulang tahun, nikah, syukuran, atau sekedar kumpul dan makan di rumah salah satu teman kita. Bisa jadi juga terbentuk saat minimal dua orang alumni insan cendekia bertemu dan berceritera satu sama lain. Berbagi memori dan nostalgia masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-402"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Petikan tulisan di bawah ini setidaknya adalah beberapa inti yang kami sarikan dari pembicaraan mereka yang sifatnya non-<em>privat</em> dan non-<em>indivudual</em>. Perlu dicermati bahwa intisari di bawah ini sebagian besar berupa MASALAH / problem. Oleh karena itu, izinkan di forum maya ini kejeniusan teman-teman terakses oleh lainnya. Kita dapat mengubahnya menjadi SOLUSI sekarang. Tentunya pula dengan pola yang ramah dan santun yang telah menjadi ciri khas kita dari dulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekali lagi, silakan teman-teman menambahkan komentarnya masing-masing pada bagian yang kosong. Anda bebas berkomentar satu sama lain. Semoga menjadi momentum dalam pencarian jati diri kita sebagai sebuah komunitas. Apa, siapa, kemana, untuk apa, bagaimana??? Terima kasih.</p>
<p style="text-align: justify;">LATAR BELAKANG<br />
(Beberapa poin yang mendasari/melatarbelakangi bahan pembicaraan)</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Fakta bahwa almamater SMU/MAN Insan Cendekia Gorontalo telah berdiri sejak tahun 1997 dan telah meluluskan alumninya sejak tahun 2000.</li>
<li>Fakta bahwa terhitung sejak meluluskan alumni tahun 2000 telah ada 8 (delapan) angkatan alumni yang berjumlah kurang lebih 500 orang dan melanjutkan studinya di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Jogjakarta, Surabaya, Malang, Makassar, Manado, Gorontalo serta beberapa kota lainnya baik dalam dan luar negeri.</li>
<li>Fakta bahwa para alumnus di atas telah dan sedang mengembangkan bakat dan potensi diri yang sesuai dengan keinginan/minat masing-masing pada berbagai disiplin pengetahuan &amp; kemampuan. Pengetahuan &amp; kemampuan ini adalah aset bagi diri sendiri, keluarga dan orang yang dicintai tentunya. Lebih dari itu, merupakan sumber daya tak terbatas bagi pengabdian terhadap Allah SWT, tingginya panji Islam, harumnya nama bangsa Indonesia, dan kemajuan daerah khususnya Gorontalo.</li>
<li>Fakta bahwa para alumnus angkatan pertama sampai ketiga sebagian besar telah menyelasaikan studinya. Beberapa telah berumah tangga, memulai bekerja dan berusaha. Tumpuan tentunya ada di pundak mereka yang berstatus pionir. Pionir bukan hanya dalam berbagai hal pada masa dahulu kala remaja saat di almamater, tetapi juga pionir untuk masa depan. Masa depan almamater, masa depan paguyuban IAICG, masa depan Gorontalo, Indonesia, Islam, dan lain sebagainya.</li>
<li>Fakta bahwa telah terjadi penurunan keterlibatan langsung dari para alumnus untuk berkontribusi pada komunitas ICG. Kejadian yang dapat menjadi indikator :                                                               a.    Acara halal bi halal setiap hari ke-2 atau ke-3 lebaran yang menjadi tradisi tahunan semakin sepi dari tahun ke tahun. Lebaran 1428H kemarin, hanya dihadiri sekitar 10 &#8211; 20an alumnus. Angkatan yang menjadi panitia penyelenggara pun terkesan tidak fokus dengan acara ini.                                     b.    Eksistensi paguyuban IAICG semakin kabur. Mungkin karena pengurusnya. Tapi lebih mungkin lagi karena fakta bahwa sikap skeptis/cuek anggota komunitas ini. Usaha pengurus selama dua tahun terakhir untuk mengadakan MUBES ditanggapi dingin. Akhirnya MUBES tetap diadakan dengan jumlah peserta tidak lebih dari sepuluh orang. Bahkan untuk pemilihan ketua IAICG sekalipun hal itu terjadi. Jauh dari kuorum yang mengharuskan peserta minimal dua pertiga dari total alumni.</li>
<li>Fakta bahwa &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..(silakan teman2 tambahkan sesuai sudut pandang masing)</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">TUJUAN<br />
(Pada akhir perbincangan, selalu terbersit harapan ideal yang dibayangkan. Beberapa kami paparkan, lainnya dapat teman-teman tambahkan.)</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Harapan bahwa komunitas ICG menjadi lebih solid ukhuwahnya dan silaturahminya. Yang tua menyayangi &amp; mengalah kepada yang muda, yang muda menghormati dan mendengarkan yang tua, dalam kerangka persaingan sehat. Kondisi ini dipercaya dapat mendorong anggota komunitas menjadi lebih kaya aksi nyata yang bermanfaat bagi banyak orang dengan semangat persatuan yang tinggi.</li>
<li>Harapan bahwa komunitas ICG menjadi wadah yang dapat memfasilitasi dan menjembatani berkembangnya setiap potensi yang dimiliki oleh para alumnus. Potensi-potensi itu tersebar pada berbagai bidang seperti keteknikan (elektro, informatika, sipil, arsitektur, telekomunikasi, pertambangan, energi, sains, dll), kedokteran, sosial kemasyarakatan, politik &amp; pemerintahan, kewirausahaan &amp; bisnis, seni &amp; sastra, karir profesional (pengacara, jaksa, hakim, polisi, tentara, bankir, dll), potensi amal &amp; derma serta masih banyak bidang lagi yang tidak dapat disebutkan satu per satu.</li>
<li>Harapan bahwa …(silakan teman2 tambahkan sesuai sudut pandang masing).</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cendekia.web.id/2008/05/kopea-koloni-pemrihatin-almamater.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
