Ngeblog, jadi pengusaha ato dokter?
Kirain blog ini dah wafat, eh ternyata masih ada nafas-nafas terakhir. Meski sekarang FB telah mengambil alih banyak waktu kita, bahkan para guru di sana, tapi bagi saya, ngeblog ga boleh berhenti. Menulis memang bagi saya masih sulit, namun makin sulit lagi bila kita tak punya niat untuk menulis. Menulis harus kita jadikan sebagai budaya, tentu saja menulislah yang santun, bukan berita bohong. Akan lebih baik lagi bila wadah ini dimanfaatkan pada Alumni IC dan para guru tuk berbagi pengetahuan. Namun, sejak dibuatnya blog ini, saya ga ingat lagi, siapa saja guru ataupun “mantan” guru IC yang pernah berkunjung ke blog ini.
Hampir 7 tahun lamanya saya dahulu kuliah di Bandung. Kota yang serba ada. Apapun ada di sana. Telah terbiasa saya melihat ada seorang kakek (usia 70-an) memikul keranjang kacang rebus, berjualan keliling perumahan. Ada lagi makanan favorit semasa kos, Nasi goreng Tek-tek, jualan keliling dari gang satu ke lainnya, rasanya maknyoos, entah bumbu apa yang ia pake, sampai pernah saya berpikir, jangan-jangan dia pake campuran ganja. hihihi…. Bila anda termasuk yang suka bepergian dan berbelanja, maka tak asing lagi sederet FO ataupun Kafe di sini. Saking ketatnya persaingan, maka pemilik usaha akan memutar otaknya untuk berjalannya usaha itu. Menawarkan sesuatu yang unik, ataupun harga yang murah, ataupun mahal sekalian, itu tergantung pasar yang dibidik.
Saya tidak dilahirkan di lingkungan pengusaha, tapi keluarga plat merah, sayapun tak pernah ikut training interpreter, semasa kuliahpun saya masuk golongan mahasiswa yang tak suka berorganisasi. Tapi hidup di Bandung membuat mata dan telinga ini sedikit belajar, bahwa manfaatkanlah keterbatasan kondisi menjadi peluang usaha. “Hawa” ini tidak kurasakan di Gorontalo maupun di hutan. Kebanyakan orang terbuai tuk nerimo keterbatasan dan membiarkan menjadi lumrah.
Saya tak menyarankan anda tuk menjadi penjual kacang, ataupun penjaja nasi goreng yang enak, biarkanlah mereka dengan pelanggannya, tapi marilah kita belajar menjadi pengusaha, apapun bentuknya.
Kini saya kembali ke Bandung, impianku tetap ku simpan, moga bisa terwujud di suatu masa nanti. Lepas dari itu semua, Saya akan sedikit cerita tentang kehidupan saya dan sejawat di Bandung. Janganlah anda bercita-cita menjadi kaya dengan menjadi dokter. Ini bukan penyesalan memilih profesi, tapi saya hanya ingin menyadarkan sebagian masyarakat yang berangan-angan kaya dengan menjadi dokter.
Rata-rata pendidikan dokter ditempuh dalam 5,5 sampai 7 tahun. Di saat anda tengah “stess” dengan jaga dan menjadi koas, teman-teman anda di tehnik telah menikmati gaji pertamanya. Saat Anda lulus, teman anda telah “berpengalaman” 1-2 tahun di perusahaan, yang itu sangat menjadi nilai tambah saat melamar kerja di tempat lain. Setelah lulus, dokter sebenarnya masih diharamkan praktek, ia harus ikut ujian kompetensi yang hanya dilakukan 4x setahun, dan kalaupun lulus ia harus menunggu keluarnya STR dari jakarta, barulah ia boleh mendaftar SIP untuk izin praktek.
Anda akan menemui bejibunnya klinik Bandung dan Sekitarnya. Akses erhadap sarana kesehatan di kota ini sangat mudah. Biasanya biaya berobat di klinik ini bervariasi. Ada yang flat 30.ooo, ada yang sesuai tarif. Biasanya duduk di klinik itu, seorang dokter yang akan memeriksa pasien. katanya Pemilik klinik biasanya dengan baik hati akan memberi upah pada dokter itu sekitar 2500-5000/pasien. Saya pun tak pernah menjumpai klinik yang begitu baik memberi 5000/pasien. Ada juga yang membayar dokternya dengan 5000/jam (120.000/24jam). coba di hitung, berapa penghasilan para sejawat itu, 3,6 jt/bulan. Mengalahkan gaji pokok PNS gol IVa. Tapi sapa yang dengan gila akan kerja 30×24 jam? Disaat yg sama, bila anda kedatangan pasien miskin, anda tak berdaya untuk bisa menggratiskannya.
Begitulah nasib sebagian sejawat dokter. Sementara pemiliknya ongkang-ongkang kali di rumah. Sang kuli dokter harus mempertanggungjawabkan tindakannya saat menghadapi masa hidup dan mati pasien. Tragis…!!! Tapi begitulah hidup. Tak sesederhana yang dibayangkan.
Saya pun tak menyarankan anda menjadi dokter kuli di atas. Tapi, lihatlah betapa pengusaha dapat seenaknya menggaji orang yang kuliahnya 7 tahun!!!
Sekarang kita lihat dari sudut pandang yang berbeda. Bagaimana kalo kita iseng jadi pengusaha? Saya pun punya cita-cita itu tapi tidak seperti itu (?). Masalah klasik yang kita hadapi adalah MODAL.
Dimana peran Alumni? Alumni memiliki Potensi yang sangat besar. Dahulu, saya punya cita-cita membuat klinik di dekat IC, tapi malesnya minta ampun, karena saya tau tak akan lama di Gorontalo. Bayangkan bila poliklinik di Sekolah itu, di ubah menjadi klinik 24 jam di luar. Tujuannya, selain untuk usaha, Sekolah tak akan kesulitan mencari dokter yang mau kapanpun datang ke IC bila ada kasus gawat darurat. Mungkin itu hanya impuanku. Gimana kalau bentuk yang lain…
Kemanakah anak anda kelak akan di khitan? tentu saat ini anda bisa langsung menjawab, di mantri ono no.. atau ke dokter Ivan aja, atau ke dokter spesialis Urologi aja langsung yi dokter Icat! hihihihi pernahkan anda berangan” anda tetangga anda kan menjawab, Klinik Khitan Cendekia aja!! dokternya terampil terampil lho! bisa pakai cara biasa, bisa pake laser, ataopun kalo mo sama spesialis di sana juga ada dokter urologi.
Klinik Khusus Gigi pun bisa kita buat.. Berapa sih modalnya? Buat aja PT. dan jual saham ke Alumni.
Di wilayah usaha lainpun bisa kita buat. Bayangkan kalo tiap pemerintah punya proyek, alumni yang di pemerintah akan “membocori” info proyek dan tender. tentunya kejujuran yang paling utama. Hahahahah ini sih cuma asal nulis tapi sapa tau ada yang mau bergerak.
Selamat berpikir, dan Lakukanlah.. Wujudkan cita-citamu…












luar biasa wacanax.dah sering kita diskusikan.bro,kpn2 kita jadikan wacana ini menjadi kenyataan.
mantap Mr. Hasan,,, ditunggu tulisan-tulisan berikutnya
hemm….
Wacana yang sangat bagus, hanya untuk merealisasikannya kita perlu action. .
dari wacana ini saya memberikan beberapa solusi.
1. Mari pertajam wacana ini! maksudnya kita bergerak walau dengan sedikit orang. kita tidak perlu mengumpulkan 580an alumni untuk mendirikan perusahaan kan? mari kita bergerak dengan beberapa puluh orang aja. saya pikir jika peluang usaha yang kita inginkan jelas arahnya investor itu akan datang dengan sendirinya. .
namun perlu ada yang berkorban untuk diawal. yaitu “beberapa” orang ini. .
2. Ayoo rampungkan usaha apa yang akan ditekuni diawal. apakah Klinik, Apotek, ato bidang usaha lain??
Kalau mau kaya jangan jadi dokter, tetapi jadilah dokter spesialis. konon kabar di banjarmasin untuk sekali sayat oleh dokter spesialis bedah saraf itu minimal mendapat 20 juta.Dalam seminggu ada 6-7 operasi. kalau kasusnya rumit bisa lebih dari itu. itu baru di banjarmasin, belum di balikpapan.kalau dokter umum mau kaya harus bermain strategi. Jangan tinggal di Jawa. cobalah luar jawa.Tapi jangan juga menggadaikan profesi mulia dokter
Saya nulis ini bukan karena saya calon dokter yang masuk kedokteran karena ngejar kekayaan. Menjadi dokter adalah pengabdian, bukan untuk mencari kekayaan. Setiap pengabdian yang tulus akan selalu dapat timbal balik berupa materi rohani ataupun fisik. Menjadi dokter dituntut sempurna dan tahu segalanya. maka harus rajin cari ilmu.