Home » Catatan Ringan

Memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia (catatan seorang siswa)

Iyon, 22 Februari 2010 20 Comments

Ditulis oleh : Siti Farah Rahmawati (Ayha, angkt. 7 MAN ICG)

Sejak kelas 1 sekolah dasar saya sudah “dinobatkan” oleh guru kelas saya sebagai murid teladan, siswa terpintar, dan titel-titel membanggakan lain. Teman-teman saya pun semua mengiyakan gelar-gelar tersebut karena pada dasarnya saya anak pendiam yang tidak pernah menjahili dan mengganggu anak lain. Mereka dengan senang hati mengamini gelar-gelar itu.


Hal ini terus berlanjut hingga saya di sekolah menengah pertama. Semua siswa baik secara langsung maupun tidak langsung mengenali saya sebagai “si pintar”. Bahkan anggapan itu pula yang membawa saya menjabat sebagai ketua kelas selama SMP dan ketua osis SMP Negeri 1 Gorontalo selama lebih dari 1 tahun. Padahal jika diingat-ingat lagi saya sama sekali tidak punya jiwa kepemimpinan pada waktu itu. Malahan saya adalah anak yang sangat mudah gugup ketika tampil di depan kelas, terlebih lagi di depan seluruh sekolah.

Saya tidak pernah menyesal dengan semua yang telah saya alami, bahkan sangat berterima kasih dengan semua itu. Secara langsung predikat-predikat dan jabatan-jabatan itu yang membentuk kemampuan dan kepribadian saya. Dari anak yang mudah gugup, pasif, pemalu saya menjadi relatif lebih berani, percaya diri, dan lebih aktif. Saya menyadari bukan pribadi saya yang pantas dengan predikat-predikat dan jabatan-jabatan itu, tapi semua itulah yang membantu saya membentuk pribadi saya.

Apa yang ingin saya tekankan adalah ini :

Saya digelari “si pintar” sejak awal sekolah  saya selalu menjadi peringakt 1 umum di sd dan smp, dan 3 besar di smu

Saya dipercaya mampu sebagai pemimpin  saya memenagkan kampanye pemilihan ketua osis smp

Dalam tulisan ini saya bukannya ingin membangga-banggakan apa yang telah saya alami, tapi saya ingin menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi dan mengaitkan dengan sistem pendidikan di Indonesia yang memungkinkan hal-hal seperti ini sering sekali terjadi.

Dari buku-buku yang saya baca (saya tidak menyebutkan sumber bukan karena tidak menghormati, tapi ingin ini berasal dari pemahaman bukan hapalan), kesalahan adalah bagian dari pembelajaran bukan sesuatu yang harus dihukum. Ketika seorang anak melakukan kesalahan, entah itu akademik ataupun perilaku, umumnya pendidik, dalam hal ini gurunya, akan memberikan hukuman. Hukuman yang saya maksud bukan hukuman secara fisik atau hardikan (meskipun yang saya alami ketika sd adalah hukuman-hukuman ini), tapi lebih pada hukuman yang secara disadar atau tidak menurunkan kepercayaan diri dan ekspektasi anak pada dirinya sendiri.

Contoh 1 : ketika anak melakukan kesalahan perilaku dia akan dikategorikan “anak nakal”. Pendidik tidak membantu anak ini menemukan kebaikan yang pastinya ada pada setiap anak, tapi entah secara langsung atau tidak langsung membuat si anak percaya bahwa dia anak nakal, bahwa dia bermasalah, bahwa itu memang sudah sifatnya. Dan percaya atau tidak, penilaian-penilaian ini akan tertanam erat di benak si anak dan akan terus dibawa hingga Ia dewasa. Dan nilai-nilai ini yang Ia pratekkan. “Saya anak nakal. Wajar kalau saya melakukan buruk”. Berbeda dengan anak yang dikategorikan pintar dan baik, dia akan terus menjaga sikapnya karena tertanam padanya “saya anak baik dan pintar, jadi saya tidak boleh melakukan buruk dan harus terus mengoptimalkan kemampuan saya”.

Contoh 2 : dalam proses belajar ketika anak tidak bisa menjawab soal dengan benar dia akan diberikan nilai rendah yang akan mempengaruhi nilai akhir semesternya. Meskipun di akhir semester anak ini telah memiliki kemampuan yang cukup untuk dinilai baik, namun karena “sejarah” dia pernah mendapat nilai rendah (karena melakukan kesalahan), nilai akhirnya akan mencerminkan kemampuan yang lebih rendah dari yang sebenarnya telah dia miliki (karena proses pemberian nilai akhir memperhitungkan nilai tugas-tugas, UTS, dan penilaian lain selama proses belajar). Nilai akhir inilah yang akan menjadi patokan bagi lingkungan dan dirinya sendiri. Sehingga anak akan menurunkan kepercayaan diri dan ekspektasi akan kemampuannya.

Poin yang ingin saya utarakan sebagai kelemahan sistem pendidikan di Indonesia :

Setiap anak memiliki tahap perkembangan yang berbeda-beda, jadi sebaiknya janganlah mengkategorikan mereka dalam kelompok-kelompok dengan gelar “si pintar”, “si nakal”, “si bodoh”, “si rajin”, “si kreatif”, dan lain-lain. Ada anak-anak yang cepat memahami pelajaran atau apa yang diajarkan bukan berarti merekalah golongan anak-anak pintar dan yang lainnya bodoh. Hal ini mungkin terjadi karena secara biologis di awal-awal umur manusia adalah masa-masa dimana kecepatan pertumbuhan dan perkembangan begitu tinggi. Berbeda umur beberapa bulan saja ukuran dan kemampuan otak anak-anak akan berbeda (hal ini telah dibuktikan oleh penelitian para ahli psikologi). Ini berarti anak-anak yang lebih muda, meski pada awalnya mungkin terlihat “bodoh”, bukan berarti tidak dapat mencapai pemahaman yang telah diperoleh oleh anak-anak yang lebih tua. Mereka hanya “belum menunjukkan taringnya”.

Ketika mereka melakukan kesalahan, jangan dihukum. Itu adalah proses pembelajaran alami manusia. Belajar dari kesalahan. Seperti kita belajar mengendarai sepeda. Pada awalnya kita akan kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Tapi dari terjatuh itulah kita belajar bagaimana supaya tidak jatuh lagi. Sama dengan proses belajar anak. Yang aneh justru jika kita menghukum mereka karena melakukan kesalahan.

Karena itu seharusnya setiap anak diberikan kesempatan berkembang sesuai usia dan proses individunya tanpa mengalami pengelompokkan dengan penilaian-penilaian dari gurunya. Biarkan mereka berkembang. Biarkan mereka melakukan kesalahan. Bantu mereka mencapai kemampuan optimal baik secara akademik, psikis, dan kreatifitas. Tumbuhkan rasa kepercayaan diri mereka. Karena dengan mematikan kepercayaan diri itu sama saja dengan membunuh kemampuan yang mungkin akan dimilikinya. Dengan membunuh kemampuan anak, berarti menurunkan sumber daya manusia Indonesia baik secara kualitas maupun kuantitas.

RSS feed | Trackback URI

& Komentar »

Comment oleh is
2010-02-23 12:31:35

mantap,,, tulisannya menarik,,, yon,,, bagimana biar bisa ta daftar di forum sup,,, kase daftar akan,,, hatur nuhun

 
Comment oleh ayha
2010-03-04 17:34:50

makasi k’iyon…

 
Comment oleh Ahmad H
2010-03-09 15:25:09

Saya bangga dengan tulisan ini. Semoga dapat mengimplementasikan saat kita waktu mendidik yang lain.Ada pemahaman yang perlu kita sebar tentang pendidikan, yaitu pendidikan : bukan apa yang kita inginkan untuk dilakukan oleh peserta didik. Pendidikan : bukan apa yang kita tahu untuk diketahui oleh peserta didik, tetapi pada hakikatnya pendidikan adalah apa yang dapat kita hadirkan di hadapan peserta didik kita. Sukses selalu untuk penulis dan kawan-kawan yang lain…..Saya tahu mereka dan saya bangga dengan mereka semua……

 
Comment oleh joy
2010-03-09 17:09:45

nice one

bagaimana kalo tentang hukuman push up di depan masjid beramai2??

hahahahahaaa…..(no heart feelings pa guru…)

 
Comment oleh Marion
2010-03-09 17:10:29

To Pak Ahmad Hidayatullah : Welcome aboard Sir! :-D
Sekedari nformasi, tulisan ini telah dikutip dan disebarluaskan oleh detik.com di kolom pembaca :-)

Saya Bangga punya adik kelas seperti Ayha, tulisannya bisa masuk media internasional online sekelas detik.com

 
Comment oleh Ahmad H
2010-03-10 08:40:10

Joy……………….Mari kita ingat yang baik-baik untuk orang lain, agar semangat tetapi tidak menghangat, simpatik tetapi tidak bikin sakit,dan di tempat inilah kita motivasi semua orang untuk berbuat baik kepada dirinya,yang lain, daerahnya, bangsanya, dan semua orang sejagad.Agar kita dapat merubah dunia, termasuk diri kita masing-masing.Ada waktu yang selalu berubah dan ada kita yang selalu mengikutinya…. Ada nasehat untuk saya dan kita semua : Pada saat kita baik….. ingat jangan takabur karena kita semua punya masa lalu, tetapi pada saat kita pernah salah…… jangan pesimis karena kita punya masa depan.Semua orang dapat berubah…… Mari kita ubah semuanya untuk menuju kebaikan. Kita ciptakan komunitas maju untuk bangsa dan dunia yang maju. Bila sepakat kita buat gerakan Indonesia maju, gerakan Indonesia mandiri, Gerakan memperbaiki tanpa memaki, gerakan membantu tanpa tanpa menunggu. Ok? Kita kampanyekan ramai-ramai.Saya percaya…… anak-anakku tahu yang terbaik untuk semua…….. Merdeka.

 
Comment oleh dini ayu
2010-03-10 13:49:00

@joy, anggap saja olahraga…. Hahahaha…. Biar sehat!

Saya setuju dgn tulisan penulis “biarkan mereka berkembang, biarkan melakukan kesalahan”. Tapi jgn sampe melakukan kesalahan fatal. Banyak kesalahan yg tdk bs diperbaiki & banyak org mnyesal krnanya. Sebenarnya….. Di sinilah tugas para pendidik… Mengarahkan supaya si anak didik tdk kebablasan. Kadang mmg perlu berbuat tegas. Perlu sekali2 di hukum push up d depan masjid (biar kolestrol ga numpuk joy). Tp setelah itu perlu minum air dingin, perlu diberi pengertian & pemahaman (pak ahmad sering melakukan ini).

saya ingat pernah disuruh masuk selokan busuk dpn asrama sm pak ahmad krn bolos sholat subuh. Tp saya trimakasih banyak pak. Setiap kali saya berada dlm kondisi keimanan yg paling rapuh pun, saya tahu hanya akidah yg perlu diperjuangkan di hati & otak saya. Klo sampe anak cendekia melakukan kesalahan bodoh…. Misalnya lepas jilbab atau mungkin lepas agama (murtad)….. Kayaknya perlu dipertanyakan…. “ngapain lo capek2 mondok 3 thn?” hehehe….

Memang sesama manusia ga ada hak menghakimi kualitas keimanan seseorang. Itu tugas yg di Atas. Tp merupakan kewajiban utk mengingatkan. Hari ini mungkin boleh bolos sholat, besok bisa jadi lepas jilbab, lalu mgu dpn jadi murtad….

Saya walopun sering tergoda dgn pesona & kegilaan duniawi, berada dlm kondisi & lingkungan yg sulit… apalagi skarang kerja di kantor yg org muslimnya cm 3 org, ibu kost org cina keturunan, trus d belakang kost bekas kandang babi, t4 makan muslim cm ada 2…… Kadang ngerasa ga kuat klo teman2 komentar, “ngapain sih tutup2 kepala gitu?”…. Atau, tergoda dgn komentar bos saya… “km pasti bakal tampil cantik klo lepas jilbab..” Saya tau di titik itulah saya bersyukur pernah di cendekia. Di darah saya sudah mengalir doktrin ibu rahma…. Perempuan spesial dgn “jilbab” pasti punya pendirian tegas & identitas diri yg jelas. Krn ga butuh pamer tubuh utk terlihat spesial.

Saya sbnarnya pernah buka jilbab, tp bersyukur tdk pernah lebih dr 24 jam buka jilbab di dpn publik. Hehehe….. Dan, sekarang sedang berniat memanjangkan jilbab. Doakan!

di dunia yg kapitalis, agak gila, dan kadang di luar logika ini….. Saya menemukan banyak org sukses bukan krn pintar atau IQ super. Tp krn punya identitas diri yg kuat, akidah, & konsistensi yg kuat terhadap keduanya. Simplenya gini, “Bagimana mo konsisten sama pekerjaan, urusan agama & akidah aja ga jelas gimana. Gimana bisa disiplin di t4 kerja, urusan sholat aja bolong2.”

 
Comment oleh dini ayu
2010-03-10 13:54:41

@joy, anggap aja olahraga

 
Comment oleh dini ayu
2010-03-10 14:03:16

setju sama tulisan penulis “biarkan mereka berkembang. Biarkan merka melakukan kesalahan”. Tapi jgn kebablasan. Krn banyak kesalahan bodoh yg ga pernah bs diperbaiki. Misalnya… Hari ini bolos sholat, besok lepas jilbab, lusa jadi murtad. Hahahaha….. Sebenarnya pak ahmad, klo soal push up d dpn masjid mnrut sya itu hal biasa. Biar skalian bakar kalori (ok kan joy). Tp habis itu minum air dingin, dikasi pemahaman & pengertian yg bijaksana (pak ahmad sering ada di posisi ini… Thx pak).

 
Comment oleh dini ayu
2010-03-10 14:32:26

Kpd joy & teman2… Jgn terlalu sensitif memandang negatif mslh “push up dpn masjid”. Sbnrnya skrg ini… Jujur…. Sya pribadi kdg merasa mbutuhkan “hukuman” atau “ceramah” ala pak ahmad di kala tingkat keimanan & akidah saya mulai rapuh. Dunia soalnya berjalan bgitu sdrhana wkt sya di cendekia. Ga sholat maka bakal dihukum “push up”. Thats it! Kalo skarang, ga sholat….. Ga ada yg peduli, ga ada yg ngasih hukuman…. Bisa2 besok jadi murtad. Agak mengerikan! Krn di atas dunia kapitalis edan ini, hidup yg udh ga da moral, mpertahankan identitas diri, akidah, dan konsisten trhadpnya…….. Ternyata SULIT. Hikssss……..!! Saya kdg takut jd manusia munafik yg ga terbawa arus mordenisasi. Koq malah curhat ya? Hehehe…

 
Comment oleh Marion
2010-03-10 15:25:21

Sepertinya, blog ini bgitu menarik jika ada satu kolom namanya
Catatan Pak Ahmad.
dan satu lagi, Bertanya ke Pak Ahmad!
Setuju ga?

Untuk pak Ahmad Hidayatullah yang kami Cintai :-) ada usul nih dari kaka2 angkatan 1-4, katanya mohon kiranya pak ahmad bisa memberikan sedikit tulisan di sini. buat pencerahan kami semua. . Bersediakah Bapak kita yang satu ini?

 
2010-03-10 15:36:34

[...] ini sebenarnya telah di publish di halaman komentar di bawah tulisan yang berjudul Memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia (Catatan Seorang Siswa). Saya hanya mencoba menjadikan ini sebagai tulisan yang baru, biar tampak fresh terus blog alumni [...]

 
Comment oleh dini ayu
2010-03-10 15:47:02

iyon.. Qt p tulisan so doble2 ta klik. Trus td sprtinya nda ta posting. So ta ulang2 gituw.. Eh ini so ta post smua. Pe smangat skali b curhat do’ew…. Online pake hape ini. Agk susah! Sambil sembunyi2 juga…. Ada bos d sblah! Hahaha..

 
Comment oleh joiy
2010-03-12 07:21:09

may i have ur excuse here….?

apakah saya pernah menyebutkan saya memandang negatif hukuman itu? saya disini malah ingin menegaskan kalo hukuman2 seperti itulah yang WAJIB diberikan apabila seorang anak didik melakukan kesalahan yang setimpal…(sama seperti kata k dini di atas)

kenapa saya bisa AMAT SANGAT MENDUKUNG hukuman2 ini?
karna menurut saya, ini adalah suatu sarana pembelajaran yang bisa diberikan oleh para guru kita tentang apa artinya KONSEKWENSI..

saya memandang hukuman2 ini sebagai LATIHAN untuk kita dalam mengarungi DUNIA NYATA dimana kita harus berjuang SENDIRI tanpa bimbingan dan arahan dari GURU KITA. amat sangat kecil push up di depan masjid kalo dibandingin dengan HUKUM ALAM ato SOSIAL yang PASTI kita temui di dunia setelah sma kita.

AKAN JADI APA ANAK DIDIK YANG GAK TERLATIH MENTALNYA MENGHADAPI HUKUMAN2 ALAM DAN SOSIAL INI KALO DI SAAT SEKOLAH TIDAK PERNAH MENJALANI HUKUMAN DARI GURUNYA YANG MENGAJARKAN TENTANG ARTI SUATU KONSEKWENSI DAN TANGGUNG JAWAB??

sori kalo agak belibet bahasa indonesianya, maklum….hehehheee…

 
Comment oleh Zulkarnain
2010-03-12 10:46:36

tulisan yang sangat bagus…

 
Comment oleh ayha
2010-03-14 19:57:33

terima kasih atas semua kritik dan saran dari kk2, teman2 semua…
sya sangat hargai..
saya hanya ingin meluruskan “kesalahan” yang saya maksudnya tampaknya berbeda dengan “kesalahan” yang kk2 semua bahas.. “hukuman” yang saya maksud juga adalah “hukuman” karena kesalahan akademik, bukan “hukuman” atas kesalahan yang sudah disadari oleh si pelajar bahwa itu salah..

saya membuat tulisan ini sebenarnya berdasarkan pengalaman dan pengamatan serta saya tujukan untuk dunia pendidikan Indonesia secara luas, bukan untuk satu institusi saja..

terima kasih atas semua masukan atas tulisan saya.. mohon maaf kalo pribadi saya ternyata menimbulkan sedikit “kecanggungan”.. terima kasih atas “mengingatkan”nya.. saya tulus berterima kasih..
hanya saja saya tidak ingin dan tidak akan berubah atau menyembunyikan kepribadian saya hanya untuk “fit in” dalam suatu komunitas.. karena saya juga punya prinsip dan pandangan pribadi yang insya Allah tidak mengganggu hidup orang lain..

 
Comment oleh hedi
2010-04-22 12:24:53

Generasi hebat hanya akan lahir dari sistem yang hebat, yaitu ISLAM. Kalau sekarang kita hanya akan melihat lahirnya individu yang hebat (bukan masyarakat yang hebat), karena semua sistem di dalam kehidupan kita tidak menerapkan ISLAM secara sempurna. Kalau hanya bisa melahirkan individu2 hebat yang itu bukanlah keberhasilan. Contoh lah jaman Rasulullah SAW dan jaman khilafah yang telah melahirkan masyarakat hebat (bukan sekedar individu hebat). itu baru patokan keberhasilan. Kalau untuk IC sendiri saya pribadi hanya bisa mengatakan bahwa hanya bisa melahirkan banyak pribadi yang hebat dalam akademis. ada beberapa alumni yang justru merendahkan almamaternya dan agamanya sendiri.

 
Comment oleh hedi
2010-04-22 12:30:34

setiap anak memiliki kelebihan. Tapi sistem pendidikan kita justru membuat seorang anak semakin kabur untuk melihat segala kelebihannya. Padahal institusi pendidikan seharusnya justru mengasah dan menemukan semua potensi yang ada dari seorang anak.Semua manusia yang lahir ke dunia ini adalah orang jenius dan pintar. Tapi lingkungan dan sistem lah yang membuat orang menjadi bodoh.

 
Comment oleh hedi
2010-04-22 12:38:51

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa ketika perempuan yang sedang hamil sering muntah pada 3 bulan pertama kehamilan atau yang disebut dengan hyperemesis, maka itu adalah respon janin dalam menolak segala macam makanan atau minuman yang masuk ke dalam dirinya melalui perantara ibunya, dimana makanan ataupun minuman yang ibu konsumsi akan dapat merusak janin tersebut, sehingga oleh janin akan ditolak.Maka semakin ibu sering muntah atau disebut dengan hiperemesis gravidarum, maka akan semakin menunjukkan bahwa janin tersebut adalah cerdas. Dari hal itu menunjukkan bahwa setiap manusia lahir dengan kecerdasan yang luar biasa, tetapi lingkungan dan sistem lah yang akan membuat kecerdasan itu menjadi sia-sia. Dan saat ini kondisi itulah yang terjadi
NB: Setiap perempuan yang hamil pasti akan mengalami hiperemesis

 
Comment oleh hedi
2010-04-22 13:41:44

ralat tuh.muntah pada ibu hamil disebut emesis aja.kalo yang berlebih baru hiperemesis.setiap perempuan akan mengalami emesis, dan 5 %akan menjadi hiperemesis.gara2 g tidur 2 hari karena jaga di anak jadi hang ini otak, jadinya malah salah ketik n bisa mengakibatkan salah informasi deh.
sory
n
PISS

 
Nama (wajib)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Komentar Anda (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.