MOMENTUM BAGI KITA JUGA
Gegap gempita terasa sesak memenuhi tahun dua ribu sembilan di negeri ini. Hiruk pikuk dan pesta pora seakan tak mau kalah dengan berita nestapa dan bencana. Silih berganti mereka menghiasi media informasi. Sungguh, terasa baru kemarin meriahnya tanggal satu masehi, hijriyah dan imlek. Semaraknya mempertontonkan prosesi masing-masing yang unik satu sama lain. Dan sekarang rakyat sedang disuguhi kemeriahan lain yang langka dan yang berbeda. Ya, pemilihan umum.
Dia langka sebab hanya hadir sekali dalam lima tahun. Dia berbeda karena banyak hal yang lain daripada yang lain. Tidak perlu diragukan lagi, yaitu ramenya diskusi, debat, adu argumentasi, logika, kampanye serta selebrasi tentang segala instrumen yang terlibat dalam pemilu. Laksana melodi demokrasi yang tetap harmonis dentumannya meski penuh orkestra konflik dan kontroversi.
Pemilu Untuk Legitimasi
Ini adalah sebuah hipotesa tentang pentingnya pemilu bagi rakyat bangsa ini. Bangsa berketuhanan esa yang menegakkan negaranya pada sendi-sendi demokrasi. Sistem yang konon menjadi pilihan dua pertiga rakyat bumi. Sistem yang memang tidak sempurna tapi paling tidak dapat menyempurnakan desain sistem yang holistik. Maka kesederhanaan hipotesa ini pula demi kesederhanaan proses kita memahami bersama.
“Legitimasi merupakan hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin. Konsep legitimasi berkaitan dengan sikap yang dipimpin (masyarakat atau kelompok manusia) terhadap kewenangan pemimpin. Artinya, apakah masyarakat menerima dan mengakui hak moral pemimpin untuk membuat dan melaksanakan keputusan yang akan mengikat masyarakat itu atau tidak?? Apabila masyarakat menerima dan mengakui hak moral pemimpin untuk membuat dan melaksanakan keputusan yang akan mengikat mereka nanti, maka dapat dikatakan pemimpin tersebut berlegitimasi. Jadi, legitimasi adalah seberapa besar penerimaan, pengakuan, dan dukungan masyarakat terhadap sistem kepemimpinan beserta produk peraturannya.” (Ramlan, 1992).
Oleh karena itu maka pemilu absolut. Serupa akta tanah, dia berperan sebagai bukti yang menunjukkan besar kadar legitimasi. Dia adalah cara tunggal mendapatkan legitimasi yang prosedural dan konstitusional. Maka tidak kaget MUI pun ikut khusyuk ber-ijtihad hingga berfatwa bahwa haram menjadi nonpartisan dalam pemilu. Padahal para ulama itu bukannya tidak paham bahwa pemilu dan demokrasi bukan identitas khilafah dalam Islam. Terpenting bagi mereka adalah membuktikan legitimasi dari 200 juta lebih penduduk Indonesia. Yang tentunya sangat jauh berbeda kondisinya ketika waktu itu Abu Bakar dilegitimasi oleh para sahabat yang semuanya sholeh untuk menggantikan kepemimpinan Rasulullah.
Mengapa legitimasi begitu mutlak? Dan apakah setiap pemimpin (ketua ini-itu, kepala ini-itu, presiden ini-itu, dll) harus menggenggam legitimasi? Sebab dia mendatangkan kestabilan dalam proses kepemimpinan. Kestabilan yang lahir dari pengakuan dan dukungan masyarakat itu membuahkan kemungkinan untuk perubahan sosial ke arah yang semakin positif. Semakin hari semakin menguntungkan masyarakat itu sendiri. Dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.
Pemilu Untuk IAICG
Euforia demokrasi di atas hendaknya menjelma menjadi inspirasi. Sebagai tabiat manusia intelek yang selalu menarik hikmah di setiap situasi. Seperti selalu, berusaha mendalami sesuatu yang baru. Termasuk momentum demokrasi itu sendiri.
Tanpa terasa kita tak kuasa menahan masa. Serasa kemarin almamater tercinta yang telah menempa fondasi nilai, kita tinggalkan. Kita tinggalkan demi petualangan di universitas kehidupan. Seolah tidak capek, dia akan melahirkan satu dasawarsa generasi emas. Sepuluh tahun persaudaraan karena almamater.
Ibarat umur sebocah muslim, maka tiba saat komunitas kita dikhitan. Momentum penanda dia memasuki gerbang kedewasaan dan kemandirian. Ketika waktu dimana dia mulai dihitung dosa dan pahalanya di mata manusia dan pencipta. Keberadaan dan sumbangsihnya pada lingkungan mulai dinanti dan dinilai. Ya, dinilai, apakah sebatas nama besarnya saja, atau sebatas remeh temeh fasilitas dan sistem pendidikan tiga tahun saja, atau kah pada karya dan pengabdian kolektif sebagai pelunasan investasi yang panjang dari suatu sistem pendidikan.
Maka di usia sepuluh tahun, komunitas ini harus dapat mengartikulasikan jati dirinya, visi, misi, manfaat serta kepentingannya kepada kelompok manusia lain. Ujungnya jelas, yaitu untuk mewarnai corak peri kehidupan di lingkup lingkungan yang lebih besar daripada yang bisa diwarnai oleh pesona individu kita masing-masing.
Kita disatukan oleh banyak faktor sebagai hasil derivatif dari pergumulan tiga tahun di almamater. Kemiripan nilai dasar yang kita anut tentang sifat, sikap, kepercayaan, kecenderungan, cita-cita, semangat, dan lain-lain akhirnya telah menyepakatkan kita untuk mengorganisasikan diri melalui ikatan alumni (IAICG). Tinggallah kita sebagai kelompok yang terorganisasi harus mengatur sistem interen yang jelas. Kita juga layak memiliki pola kepemimpinan yang moderen dan demokratis, sumber keuangan untuk membiayai kegiatan, dan pola komunikasi dan koordinasi baik ke dalam atau ke luar organisasi.
Jika menengok sejarah, memang wadah silaturahmi menjadi alasan semuanya ber-IAICG. Saat itu umur belumlah akil balig. Adalah wajar senantiasa merindukan masa bersama dan bermain dalam ajang silaturahmi. Dan waktu terus berlari. Komunitas terasa hambar. Sebagian mulai sadar bahwa potensi kita terlalu hebat untuk sekedar kumpul-kumpul laksana arisan. Sekarang yang dibutuhkan adalah puncak Himalaya tujuan bersama sebagai pembakar energi dorong semangat penaklukan. Penaklukan akan hal-hal yang besar, sulit, tinggi, tak mungkin, berliku, dan lain sebagainya.
Katakanlah itu yang disebut konsorsium. Konsorsium usaha ekonomi yang paling masuk akal. Contohkan seperti Bukaka Group, Bakrie Group, dll. Dapatkah dibayangkan cara mewujudkannya jika kita bukanlah penganut budaya korporatisme? Adalah komunikasi, kompromi, negosiasi, administrasi, prosedurasi, team work, musyawarah, mufakat dan masih banyak lagi nilai yang harusnya mulai kita selami. Dan IAICG adalah wadah yang paling terjangkau. Di dalamnya semua dapat berlatih mengorganisasikan diri sebagai sebuah kelompok. Pesertanya akan memulai investasi baru. Mereka mulai menanam waktu pada hal-hal yang mungkin belum terukur nilainya saat ini.
Ringkas cerita, IAICG memang banyak yang tidak membutuhkannya. Namun kacamata rasional nan optimis melihat sebaliknya. Semua dapat menggunakan sarana belajar yang satu ini untuk pertumbuhan individu dan harapan masa depan yang lebih baik. Tinggal menanti saat banyak alumnus yang mengubah sudut pandangnya. Dari yang tadinya sempit dan picik menjadi lebih berwawasan dan positif. Maka di saat itu komunitas alumni akan berubah. Dari rapuh menjadi kokoh. Tercerai berai menjadi bersatu. Kaku menjadi toleran. Curiga menjadi percaya. Egois menjadi kompromi. Tak acuh menjadi cinta kasih. Perhatian, kepedulian, kata pujian dan terima kasih bertaburan di setiap jumpa. Sungguh indah bukan?
Singkat kata, segalanya mengarah pada tentang apa yang dapat kita lakukan saat ini untuk Ikatan Alumni Insan Cendekia Gorontalo. Panjang lebar di atas hanyalah penghantar untuk semuanya dapat berpikir Besar. Dan almamater menuntut untuk dilakukan banyak hal kecil. Seperti pemilihan umum. Sekali lagi tanpa pemilihan umum, tidak akan pernah kita dapatkan legitimasi yang terukur dan hitam di atas putih dari saudara alumni lainnya. Pemilu adalah kunci pintu keluar dari lorong buntu selama ini. Solusi pantas atas kronis akut yang diderita IAICG sekian waktu. Dengan niat dan upaya maksimal untuk melaksanakannya, InsyaAllah banyak pihak akan menarik hikmah dari momentum ini. Momentum demokrasi. Momentum bagi kita juga.
Terima kasih,
Kami yang belum final.
NB: HABIBIE, CENDEKIA, & ALUMNI, SEBUAH EFEK DOMINO.












jadi,, point nya apa?
aq merasa semua ALUMNI, SUDAH pnya presepsi seperti itu bahkan mungkin lebih….wacana sprt ini sdh pernah di angkat bahkan sering…..saking seringx cuma jadi WACANA….
kayakx menjadi suatu keUNIKAN dari ALUMNI IC…
Anda terlalu High Expectation menurut saya.
Kita jangan dulu berbicara menyatukan IAICG di satu Indonesia. istilahnya seperti IAICG comes to Papa!
SULIT!
Untuk mengatur IAICG yang hanya terdiri atas 5 Kota (JAKARTA, BOGOR, DEPOK, TANGERANG, dan BEKASI) seperti apa yang saya rasakan sekarang aja sudah sangat SULIT.
Saya jadi ingin bercerita sedikit mengenai pengalaman saya selama menjadi Pak RT IAICG-JABODETABEK. Untuk mengumpulkan kita-kita yang berada di wilayah Jakarta mencapai 20 orang (Kita semua ada 60 orang di 5 Kota itu) sulitnya minta ampun.
Yang di Bogor bilang, “wah kami malas ke Jakarta jauh, kalo mau yang di Jakarta aja datang ke Bogor. Lagian besok kami ada ujian dan banyak tugas.”
yang di Tangerang bilang “Saya cuma sendiri Kak, susah ke Jakartanya.”
yang di Bekasi bilang “Wah gue hari ini gak bisa Yon! terus ada kegiatan organisasi di BEM ntar sore. gimana donk?!”
yang di Depok bilang “Oke lah, tapi gue telat!!”
yang di Jakarta bagaimana? yang di Jakarta “Wah saya ada keperluan pribadi, sepertinya gak bisa! nanti lain waktu aja deh!”
Intinya untuk mengumpulkan mereka aja sulit, apalagi membicarakan hal-hal yang lebih penting.
Setelah sekian lama saya diam dan tidak menjadi pak RT yang baik (pengennya di PECAT, karena mengundurkan diri tidak diperbolehkan oleh anggota.
) saya mencoba melakukan pendekatan yang berbeda, yaitu Hobi. sekarang ini kita mencoba mengembalikan tali kekeluargaan itu melalui “MAEN FUTSAL” dan ternyata it Works! Rencananya tiap minggu kami akan melakukan kumpul-kumpul dan main bersama. Mengapa Futsal yang saya pilih? karena 85% Anggota IAICG JABODETABEK itu COWOK.
Saya pikir, untuk menyatukan suatu komunitas perlu ada kesamaan. kesamaan sebagai alumni belom tentu bisa mempersatukan kita dalam organisasi, jadi saya mencoba yang lebih kecil lagi.