IAICG dan Alumni
Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menerima sebuah pertanyaan dari salah satu alumni yang tidak perlu disebutkan namanya disini. Dua hal pokok yang ditanyakan yaitu sebenarnya apa sih fungsi IAICG ?? kemudian apakah saya tidak merasa bahwa alumni insan cendekia gorontalo sekarang ini sudah banyak yang keluar jalur ??
Entah apa yang ada dibenak si alumni tadi sehingga harus mengajukan pertanyaan tersebut kepada saya. Mengingat saya bukanlah penggagas, pendiri, ataupun pengurus di IAICG. Mungkin kalau ada yang menganggap saya adalah bagian dari struktur organisasi IAICG karena sudah lancang membuat blog ini, silahkan anda baca dan cermati lagi halaman Tentang Kami blog ini yang sudah ada sejak pertama kali blog ini dibuat.
Tetapi sudahlah, karena saya juga termasuk dalam alumni Insan Cendekia Gorontalo yang mau tidak mau harus menjadi anggota IAICG, maka saya akan coba sedikit menjawab pertanyaan tersebut sekalian sharing opini saya tentang IAICG dan alumni – alumni Insan Cendekia Gorontalo yang menurut dia sudah banyak keluar jalur (mungkin saya juga termasuk didalamnya).
Yang pertama
Apa sih fungsi IAICG ??
Mari sejenak kita menengok kebelakang tentang sejarah dan latar belakang berdirinya IAICG, yang bisa anda baca di websitenya. Disana sudah jelas bahwa IAICG berdiri karena para alumni membutuhkan sebuah wadah untuk bersilaturahmi. Perkara wadah yang dibangun tersebut bisa berfungsi dengan baik atau tidak, itu bukan urusan saya.
Yang jelas tanpa melalui sebuah wadah yang bernama organisasi yang disana ada latar belakang, struktur organisasi, dan visi – misi yang saya yakini 100% anda malas untuk membacanya, menurut saya silaturahmi sesama Alumni Insan Cendekia Gorontalo masih tetap bisa berjalan. Buktinya saya sebagai salah satu alumni setiap harinya bisa bersilaturahmi dengan alumni – alumni lainnya tanpa sepengetahuan pengurus IAICG hehehe
Jadi, apa dong fungsi IAICG ?? Saya juga tidak tau
Yang kedua
Apakah saya merasa alumni – alumni sekarang ini sudah banyak yang keluar jalur ??
Untuk pertanyaan yang kedua ini saya tidak bisa berkomentar banyak, karena mungkin saja saya termasuk alumni yang sudah keluar jalur seperti yang dimaksud. Yang bisa saya katakan hanyalah Insan Cendekia Gorontalo hanyalah sebuah institusi pendidikan biasa, sama halnya dengan SMA ataupun MAN lainnya. Insan Cendekia bukanlah lembaga pendidikan yang mengharuskan alumninya berjilbab misalnya, karena setelah menjadi seorang alumni semua yang mereka lakukan adalah tanggung jawab mereka sendiri.
Insan Cendekia hanya mengajarkan seorang muslimah wajib berjilbab, yang namanya orang islam wajib sholat 5 waktu bukan hanya seminggu sekali saat jum’atan, dan lain sebagainya. Perkara alumninya menjadi seorang muslim atau muslimah yang taat, itu bukan urusan mereka. Percayalah, sekolah itu gak akan peduli dengan anda. Mereka terlalu sibuk membangun reputasi yang semakin hari semakin melambung ketimbang ngurusin alumni – alumninya yang sudah keluar jalur seperti yang dimaksud.
Ah.. sudahlah… Lupakan IAICG !! karena IAICG bahkan belum bisa mengurus dirinya sendiri sebagai sebuah organisasi.
Mungkin hanya itu sedikit opini saya tentang dua pertanyaan yang diutarakan tadi. Silahkan jika ada yang punya opini lain, seperti biasa kolom komentar masih terbuka lebar.












Masalah Keluar Jalur,
Reputasi yang mereka pikirkan, reputasi yang mana? bukankah reputasi yang menentukan kesuksesan sebuah institusi adalah alumninya sendiri?
Hahahahaha. .
Sekarang ini, saya melihat mereka lagi pembenahan ke dalam, dalam arti mereka banyak renovasi, berlomba-lomba dengan pembelajaran menggunakan fasilitas canggih. salah satunya niy, mereka gunain LCD Wireless plus Automatic Scrolling LCD Screen yang harga yang mungkin puluhan juta Rupiah. .
Reputasi yang saya maksud adalah reputasi mencetak alumni – alumninya. Sayangnya Insan Cendekia hanya bisa sampai pada tataran mencetak alumni yang bisa lulus perguruan tinggi favorit, dalam dan luar negeri.
Perkara alumni – alumninya nanti jadi berandalan, preman berdasi or whatever it calls, mereka tidak bisa melakukan kontrol akan hal itu.
Jadi, seandainya tolak ukur kesuksesan Insan Cendekia Gorontalo ditambah dengan berapa banyak alumni – alumninya yang masih sholat 5 waktu saja misalnya, saya yakin porsentase kesuksesannya tidak akan sampai dengan 50% hehehe
wuih keren dun’s yon… apakh alat2 itu bisa membuat lulusannya istiqmah dan fokus??? klo bisa, ya apa salahna kan kan????
Pertanyaan klasik yang saling berhubungan…
Ini lah keunikan Alumni IC tanpa kita sadari….
temen2 ku (diluar IC) ja mpe bingung bin bengong, ngeliat jejaring (network) kita, terlepas dari andil organisasi IAICG (gw masih di dalam na *sigh)…
gw suka opini nya bang sele…
bang so bole jadi pembina di jogja nt, atw mm pembina ya…
gyaaaaaa….hahahahhahaha….
tp koreksi dikit bang, kalo mo opini ada baik na tidak berandai2 dengan angka2, soalna nanti somo ditegur sama presiden/dewan pembina…hehehe parpol mode ON
@k’ Yudi : Pertanyaan itu yang tak bisa saya jawab. Kalau kita melihat ketidak lululsan 3orang siswa barusan, mungkin kita bisa menjawab pertanyaan fokus dan istiqomah itu. Well. let we see, untuk yang mo di luluskan berikutnya. apakah, akan tetap sama (ada yang tidak lulus) atau lulus dengan hasil di bawah? Toh, kian ke sini siswa/i lulus di PTN, rerata menggunakan jalur khusus. bukan jalur SPMB yang penuh perjuangan kek kita-kita. .hehehehehe. Jadi, seenggaknya nilai perjuangan atau nilai semangat saya pikir berbeda ketika awal kuliah.
@k’ Sele: Kalo masalah sholat 5 waktu ane nya bisa jawab kak. . Hahahaha ane yakin 50% angka yang wahh bagi alumni yang masih sholat 5 waktu. Gyahahahahahaaaha
pagemane sih nt ini, bilang di awal tdk bisa menjawab, tp depe klimat selanjut nya adalah pernyataan penjelasan yg bisa jadi bahan pemikiran n argumen. Haduh-haduh nt ini humas nya sekolah yak???? *piss ah yon hag hag hag… ^_^… btw di luar dr semua itu, ane terima kasih juga atas info2 n update-an yg nt berikan ttg sekolah, keep eksis yo !!!
Mau ada IAICG apa nggak, kita tetap alumninya insan cendekia. IAICG hanyalah penamaan, tanpa organisasipun kita masih bisa disebut sebagai IAICG.
Untuk alumninya yang kemudian dikatakan keluar jalur, aq rasa itu adalah hal yang biasa. Setiap dari kita pasti akan melalui perjalanan hidup yang berbeda2.
Kesimpulannya, IAICG fungsinya hanya lebih untuk mendekatkan kita kpd para sesama alumni sebagai bagian dari keluarga besar Insan Cendekia. Dan untuk implementasinya sebagai sebuah organisasi, aq rasa masih menunggu puluhan tahun. Itu semua kembali kepada kesungguhan kita sebagai alumni untuk bisa mewujudkannya.
Alumni keluar jalur dari ajaran yang selama ini didapatkan waktu di skul??
Ato keluar dari tujuan IAICG??
Keluar jalur, yang bagaimana???
Ingat penilain dapat dilihat dari sisi sudut pandang yang berbeda…., ada yang mengatakan ya dilain pihak tidak…
Manusia adalah mahluk yang berpikir…
Kebenaran itu adalah relatif…
Membangun reputasi bagaimana???
Mencetak alumni2 yang berkualitas tetapi instan???
Halo Sobat semua…
wah lagi rame ya bahas IAICG dan trend Alumni saat ini?
Ikut nimbrung dikit ya, IAICG pada awal pendiriannya ditujukan sebagai wadah silaturahim antar Alumni. dalam perkembangannya timbul Ide untuk menjadikan wadah ini bisa lebih memberikan manfaat bagi masyarkat luas seperti ide buat Konsorsium dll. nah, sayangnya ide tersebut tidak semudah itu di wujudkan mengingat kondisi alumni saat ini.
Terkait dengan teman2 alumni yang pada buka jilbab,baiknya ada yang bisa dekati supaya bisa kembali menjadi sebagaimana muslimah yang seharusnya.
mungkin sobat sekalian punya ide berbeda, tolong di share ya…
salam smart
Ronal Hutagalung, CHt, M.NLP
Wa…
komentarnya gmn ya???
secara agama ya di wajibkan menutup aurat…
tapi apakah dengan menggunakan jilbab berarti dia suci…
banyak yang menggunakan jilbab tapi disalah artikan…
akhirnya terjadi plesetan tutup diatas tapi buka dibawah…
seharusny orang terdekat memberikan dorongan tetapi tidak langsung menvonis… marilah bicara dari hati ke hati tapi pelan2 tanpa menyinggung perasaan sambil dimotivasi tentang pentingnya menutup aurat “doktrin secara bertahap….”
kayaknya memberi motivasi tugas seorang motivator….
gmna bung onal?
hahaha kok diskusinya jadi kacaw gini ??
Padahal ana tidak bermaksud berdiskusi soal jilbab disini… karena soal itu kan kembali lagi ke orangnya masing – masing. iya kan ??
Yang ingin ana diskusikan disini adalah IAICG. Organisasi yang hanya bisa bermimpi padahal masih banyak hal nyata yang membutuhkan peran sebuah organisasi Alumni Insan Cendekia yang katanya berimtak dan beriptek itu..
hihihihi…..
masalah sudut pandang, marilah kita perkecil saja ke IPTEK dan IMTAK (as Mr. Admin said), reputasi, prestasi ataupun kontribusi di kedua bidang terbilang…
dari pada nantinya obrolan ini akan menjadi suatu pembahasan ngalor ngidul tak tau arah yang ditinjau dari berbagai paradigma.. apalagi kalo sudah dari sudut pandang parpol (as Yudhi said) bahkan sampai ke Relativitas suatu Kebenaran (as M. Yusuf Amir said)
dijamin gak bkal kelar nie omongan:)
owkey guys…
yo wis…. Lanjuuuuuttt….
betul kata Pak Admin, kita fokuskan yuk bahasannya pada satu masalah dulu. misalnya tentang IAICG atau forum apapun yang bisa dimanfaatkan untuk saling mengingatkan dan menjaga antara sesama alumni (sampe Cinlok juga gpp).Kondisi yang terjadi sekarang bisa jadi karena kurangnya Silaturahim secara positif antara sesama alumni sehingga memungkinkan Value yang di dapat di IC tergantikan oleh Value yang berasal dari lingkungan sekitar.
MArilah bersama kita melihat kedalam diri kita. apakah sudah bisa memberikan yang TERBAIK minimal buat diri sendiri?
Soal MAN IC saat ini biarlah Kepsek dan para Guru yang mengurusinya.
Salam Smart
Kalaupun mau difokusin ke IAICGnya, aq yakin masih belum ada yang bisa kita lakukan selain menunggu. Untuk websitenya aja ampe sekarang nggak pernah terupdate.
So, semuanya masih menanti tangan2 ahli seperti tangannya bung admin.
Ada beberapa pendapat wadah alumni itu hanya sebagai wadah silahturahmi…, ditakutkan akan terjadi intrik2 yang tidak diinginkan yang akan merenggangkan kebersamaan dan tali silahturahmi karena akan memanfaatkan wadah tersebut sebagai alat untuk keuntungan pribadi…
Ada juga yang berpendapat wadah alumni itu bukan hanya untuk silahturahmi tetapi perlu ditingkatkan sebagai wadah yang lebih bermanfaat bagi alumninya maupun sekolahnya…
Dicari alumni yang benar2 komit terhadap IACG… seperti bung admin…he3x.
apa kata MR. Yadunk sangat sesuai dengan keadaan sekarang. karena merasa belum ada yang bisa dilakukan, cenderungnya para alumni menunggu saja apa yang akan terjadi dengan IAICG. Kondisinya saat ini sebagian besar Alumni masih dalam perjuangan menuju kemapanan diri. Alumni yang baru lulus IC sedang sibuk beradaptasi dengan lingkungan Baru. Alumni yang dah pertengahan kuliah sedang asyik-asyiknya dengan Organisasi dan teman kampusnya, yang udah mau lulus masih sangat sibuk ngejar deadline skripsi dan wisuda, yang udah di wisuda mondar-mandir kesana kemari nyari kerjaan, yang udah kerja sedang beradaptasi dengan kesibukan baru dan upaya untuk bisa segera nikah. belum lagi yang udah menikah, tentunya punya urusan yang lebih banyak lagi.
So…baiknya gimana ya? kalo kita nunggu, kira-kira kapan ya datangnya waktu yang sempurna itu?
Salam Smart
betul..betull..betulll… kata ka onal, wktu gk akn prnah hbs olh ksbkan krna hidup adl ksbkan itu sndiri. toh buktinya bung admin bisa kok nyempatin bikin blog yg lumyan keren gni. masalah IAICG yg 7an awalnya tuk wadah silaturahmi sy ci turut dukung dgn sepenuh jiwa n raga. cie..ciee.. kyk pejuang aj. lanjut, hanya sekedar saran. tiap alumni kan seenggak2nya prnah ngerasain yg namanya kul so pzti prnah ngenet kn bwt cri tgs or laen2. naaaaahhhh…. apa salahnya jk e-mail, FS, YM, facebook, ato blog masing2 alumni d kumpulin trz klo ada brta apa2 ya d kabarin. katanya bwt mempererat tali silaturahmi. mudah kan!!!!!:)salam maniz gk pke smut.
aSSleMKum….!!!
Mungkin agak telat saya ikut berkomentar disini lagi, maklumlah banyak kesibukan….
Membicarakan masalah IAICG sebenarnya bukanlah hal yang rumit, dalam artian segala persoalan tentang IAICG ada pada alumni itu sendiri.
Dalam menjalankan suatu organisasi nirlaba seperti halnya IAICG, memang sangat dibutuhkan yang namanya “Pengorbanan dan Pengertian”.
Pengorbanan disini dalam hal waktu, tenaga, pikiran, dsb yang menjadi “mesin penggerak” dalam jalannya roda organisasi. Kemudian pengertian antar sesama anggota pun dibutuhkan untuk mengantisipasi adanya friksi/gesekan yang memang terkadang hadir sebagai konsekwensi dalam dinamika berorganisasi.
Sebagaimana teman2 tahu, bahwa IAICG lahir dari adanya keinginan dari alumni Insan Cendekia untuk kemudian membuat suatu wadah/forum silaturrahmi sebagai sarana untuk membagi berbagai informasi. Berangkat dari hal ini, kebetulan alumni di Makassar agak banyak maka terbentuklah IAICG Cabang Makassar untuk pertama kalinya, yang kemudian diikuti Cabang2 lainnya. Itu sedikit backstory tentang IAICG.
Seiring perjalanan waktu, IAICG pun mulai berkembang dan berbenah diri, walaupun masih jauh dari harapan. Tapi setidaknya kita2 ini (alumni) pernah tercatat dalam lembaran sejarah perjalanan organisasi IAICG. Persoalan kedepan biarlah itu menjadi rahasia masa depan kita semua yang tentunya butuh planning yang mantap. Masa lalu adalah kenangan dan cerminan untuk menjadi jejak rekam langkah kita. Yang terpenting adalah sekarang. Apa yang bisa kita perbuat sekarang ini akan berakibat ke depan. Hari ini tidak dapat merubah hari kemarin, tapi hari kemarin akan menentukan apa jadinya kita hari ini.
Saya pun sepakat dengan penyataan bahwa saat ini kita hanya bisa menunggu. Tapi pertanyaannya, sampai kapan kita harus menunggu? Ingat sukses itu tidaklah datang dengan sendirinya (Jailangkung kalee…tanpa diundang…), dan bukan pula hadiah dari Tuhan, melainkan wujud dari usaha kita dalam meraihnya. Keterlibatan Tuhan dalam hal ini adalah memberikan hidayah kepada kita untuk pilihan2 terbaik menurut kehendakNYA.
Saya pribadi berharap, ke depan insyaALLAH kita semua menjadi orang2 yang berarti dan dapat memberikan warna pada generasi kita. Saya yakin alumni Insan Cendekia memiliki bekal/modal dan peluang yang besar untuk meraih semua kesuksesan itu, amiiieeennn…!!!
Solidarity Forever
Keep on Fighting till the End
Bravo…Bravo…Bravo…
Di Gorontalo, baru ada satu sekolah yang alumnusnya terus merekatkan diri secara resmi. Mereka adalah alumnus SMUN 1 Gorontalo. Pasti kita semua pernah mendengar, terutama yang tinggal di kota, “Reuni SMANSA angkatan 1992″, malah angkatan 60-an dan 70-an masih sering mengadakan reuni secara resmi. Sangat hebat untuk ukuran SMU yang terlihat kecil dari depannya.
IAICG jarang ngumpul? Gak juga. Banyakan sih gak resmi di rumahnya mantan Guru BP SPENSA, karena Ibu Haji ini punya 4 anak yang berbeda angkatan di IC. Anehnya, justru “reuni” resmi yang kurang diminati sama alumnus. Dari tahun ke tahun halal bi halal yang diadakan di sekitar UNG secara rasio lebih banyak dihadiri.
Gejala yang saya amati dari sikap kita adalah, pertemuan antar-kita sebagian besar didasarkan pada kepentingan. Saya sangat tidak sudi ketemu Oshlan Towalu jika tidak buat ngantarin saya ke mana-mana di Kota Makasar pake motor pinjamannya. (Bukan Oshlan kalo modal sandiri). Sikap inilah yang patut kita ubah. SILATURRAHMI sejatinya didasarkan atas kasih sayang bukan kepentingan.
sooooooo…
bukan hal yang sulit kan untuk menyimpulkan, mulai dari komen paling notok awal punya si Marion sampe paling pojok akhir punya a’ Qohar, marilah secepatnya kita segerakan penyelenggaraan acara kumpul2 yang resmi, alias REUNI..
who’s with me?? {toes up..!!)
Saya ikut. .