Home » Opini

HABIBIE, CENDEKIA, & ALUMNI, SEBUAH EFEK DOMINO.

KOPEA, 24 September 2008 11 Comments

Mengurai benang merah dari visi besar.

Perlu tindakan nyata dari pemegang amanah.

Buku biografi terbaru pak Habibie yang diulas pada tulisan sebelumnya (13 Sept. by Mhatozzz) layak untuk disimak sejenak di tengah kesibukan beribadah pada bulan puasa ini. Dengan buku tersebut, tabir selama ini tentang asal-usul “cendekia” yang membanggakan ter’update’ lagi kisahnya. Seumpama seorang anak yang bertanya kepada ibunya, “ma, saya lahir kapan? kenapa lahir? lewat mana lahirnya?”. Pertanyaan yang sederhana tapi bisa membingungkan si ibu yang tidak begitu tahu nilai hakikat dari sebuah kejadian.

Cerita tentang pengabdian habibie yang begitu tulus & tinggi mungkin sedikit mengusik telinga pembaca apatis. “Boro-boro mikir Habibie, nih urusan banyak banget, ga ada waktu, banyak masalah di kehidupan saya”. Begitu kalimat yang tak asing dari kenalan alumni yang sedang padat-padatnya kesibukan tugas di kampus atau di tempat kerjanya. Beberapa diantaranya sudah berkeluarga.

Akan tetapi paling tidak, materi-materi tentang visi Habibie lewat program STEP-BPPT (persamaan IPTEK & IMTAK bagi generasi pesantren) sangat bermanfaat dalam menuntun pemahaman para civitas akademika yang seumuran jagung di ‘cendekia’ tentang seperti apa model proses pendidikan optimal yang paling cocok dia lakonkan buat anak didiknya. Bagi para alumnus baru yang rata-rata lulus berijasahkan Depag, visi Habibie akan hasil output yang diharapkan patutlah mereka resapi nilainya karena mereka adalah output itu sendiri. Bagi para dedengkot (alumni & civitas), ini bisa menjadi penyegar pemahaman tentang apa tujuan sebenarnya founding father, yang tentu lebih daripada sekedar meloloskan seratus persen alumni ke PTN di Indonesia atau di luar negeri. Pengabdian yang telah dilakukan Habibie pada bangsa, negara dan agamanya ibarat tongkat estafet yang diamanahkan bagi pelari berikutnya. Ya, pelari yang sudah disiapkan olehnya jauh sebelum hari tuanya.

Cendekia sekarang

Segalanya jatuh bangun tergantung pada kepemimpinan (J.C. Maxwell).

Semuanya mengakui bahwa institusi yang satu ini berkembang pesat pada semua lini di bawah kendali mantan kepsek bapak Ahmad Hidayatullah selama tujuh tahun kepemimpinannya. Keberhasilan ini pula yang mengantar beliau menuju tanggung jawab yang lebih besar di Serpong dan beberapa tahun lagi mungkin bisa dipercayakan menduduki kursi ‘orang pusat’ di Jakarta. Akan tetapi jika dilihat dari sudut pandang berbeda, ada beberapa mekanisme yang ditinggalkan rapuh oleh beliau diantara segepok kemajuan yang telah diraihnya.

Sangat sering kita temukan bahwa institusi pendidikan yang besar dan memiliki pengaruh luas bisa dipastikan mempunyai komunitas alumni yang solid dan efektif. Cendekia pun seharusnya sudah memiliki fungsi alumni ini seiring dengan berkembangnya kampus. Salah satu kegagalan kepala sekolah sebelumnya adalah menjadi katalisator pada proses tumbuhnya organisasi alumni. Katalis yang memang bukan sebagai subjek atau objek pada organisasi ini tetapi paling tidak membantu mempercepat solidnya alumni. Misalnya, dengan memberi dorongan, memfasilitasi dengan sumber daya yang dimiliki, mengarahkan, dan lain sebagainya. Suatu investasi yang layak dilakukan Cendekia mengingat banyaknya institusi pendidikan yang mengalami percepatan kemajuan setelah alumninya secara terorganisir memberikan sumbangsih pada almamaternya. Semoga kepala sekolah setelah beliau menjadikan poin ini sebagai warisan tugas yang harus dia selesaikan demi terwujudnya visi besar yang terarah & berkesinambungan dari generasi ke generasi berikutnya.

Kondisi alumni

Gambaran umum tentang alumni sudah pernah disampaikan secara subjektif pada tulisan sebelumnya (silahkan baca disini). Yang menarik ditelisik dari komunitas alumni adalah hambatan mental, psikis, dan fisik apa yang kira-kira menghambat organisasi ini berkembang secara sehat serta bisa jauh dari kesan mandek seperti yang selama ini melekat. Ada beberapa dugaan ‘penyakit’ yang menghinggapi para output harapan Habibie ini, antaranya kira-kira sebagai berikut :

1. Sikap Tidak Peduli.

toh aku tidak dapat apa-apa dengan adanya organisasi alumni. Ada syukur, gak ada ya ngak apa-apa”. Demikian logika sederhana yang dapat membumihanguskan semangat berkumpul & berserikat anggota komunitas. Semuanya diukur dengan diri sendiri, kepentingan sendiri. Dan biasanya pemikir seperti ini adalah mayoritas. Terbukti, alumni yang punya pendapat tentang masa depan organisasi dan menuangkan pikirannya hanya beberapa orang saja (silahkan baca aril, mia, ophien, dody, yudhi, dini, qohar). Sebenarnya hal ini dapat dimaklumi karena sudah jamak terjadi dimana saja dan di bidang apa saja. Ilmu pemasaran mengatakan bahwa 20% pelanggan menyumbang 80% dari omset total dan 80% pelanggan hanya menyumbang 20% total omset. Dalam bidang pajak pun dikenal fenomena ini. Faktanya, pajak RI yang nilainya ratusan triliun sebagian besar hanya berasal dari 50 pembayar pajak terbesar di Indonesia. Memang organisasi bukan tentang pemasaran & pajak, tetapi paling tidak info ini dapat menjadi pelipur bagi penggiat IAICG yang hanya segelintir itu.

2. Sikap Takut Memulai.

Ah nanti aja. Paling cocok kalau sudah ada alumni yang jadi pejabat/orang sukses baru IAICG bisa solid & efektif”. Ungkapan ini mengingatkan kemiripannya dengan pokok masalah yang melatarbelakangi ‘penculikan Rengasdengklok’ pada 16 Agustus 1945. Bisa dibayangkan bagaimana nasib kemerdekaan bangsa ini apabila peristiwa itu tidak terjadi? Seandainya para kaum muda pada waktu itu sepakat dengan pemikiran kaum tua bahwa hendaknya kemerdekaan sebaiknya ditunggu saja dari pemberian Jepang, tidak usah diproklamirkan lalu dipertahankan dengan darah & nyawa? Memang urusan IAICG tidaklah sebesar urusan kemerdekaan negara waktu itu, tetapi paling tidak alasan ‘menunggu’ sungguhlah naif dipakai saat anak-anak bangsa lainnya saling berlomba mengejar ketertinggalannya.

3. Sikap Tidak Bersedia Dipimpin & Memimpin.

Dialog berikut ini tidak nyata, tapi sering dijumpai alumnus yang mentalnya lebih kurang sama.

“Ayo yuk aktif di IAICG, kamu juga bisa berkarya lewat IAICG juga silaturrahmi. Pintu rejeki terbuka lebar lho bagi yang rajin silaturahmi..”

“Ah malas ah, paling orangnya itu-itu aja.”

“Terus emangnya kenapa kalo orangnya itu-itu aja??”

Yaa males aja..”

“Lha iya kenapa males?”

“Bosan! Mana mereka itu kan harusnya jadi adik-adik aku..”

“Atau, gimana kalau kamu yang membina adik-adik itu biar lebih efektif??”

“Males ah. Capek dech…EGP!!”

Berita baiknya, alumnus yang seperti ini adalah minoritas. Sebagian karena bawaan hati dan sebagian lagi karena ketidaktahuannya akan kepemimpinan. Seperti halnya penulis hebat yang hampir bisa dipastikan adalah pencinta buku, pembicara yang luar biasa adalah pendengar yang tekun, maka pemimpin yang baik mestinya adalah seorang pengikut yang baik pula.

Sebenarnya tidak akan serumit labirin untuk mendapatkan kader-kader pemimpin di komunitas alumni. Asalkan para alumni mau duduk dan berpikir tentang mekanisme yang representatif dan berjenjang untuk membentuk struktur organisasi yang baik. Misalnya dengan mengoptimalkan kepengurusan di daerah (ada sembilan daerah saat ini) yang akan mewakili suara alumni dari daerah tersebut untuk melahirkan pengurus pusat IAICG. Jadi, tidak perlu lagi mengharapkan mubes yang dihadiri dua pertiga jumlah alumni yang dari tahun ke tahun selalu gagal. Sebagai inovasi, bisa juga dengan membentuk perwakilan angkatan (yang saat ini sudah sembilan angkatan) yang merupakan representasi dari nilai senioritas yang lebih dewasa. Dengan kombinasi dua sub sistem yaitu regional dan senioritas, rasa-rasanya akan sangat mudah bagi komunitas ini untuk sekedar berkongres rutin sebagai syarat wajib organisasi yang sehat demi menghasilkan konsensus-konsensus bersama yang sifatnya stratejik dan berkiblat pada visi besar di atas.

Paragraf di atas bukanlah semata bertujuan membahas politik yang selama ini tabu bagi alumni. Stigma negatif politik terpatri dalam diri siapa saja karena memang politik seperti itu apa adanya. Sebagai bagian dari seni berinteraksi secara sosial kita tidak dapat menghindarinya. Bahkan menurut teman yang kader partai Islam, berpolitik wajib hukumnya dari nabi sebagai wujud dari kekuatan umat Islam. Yang jelas, salah satu fungsi IAICG adalah wadah untuk kita belajar dan wadah menyalurkan karya-karya besar alumni nantinya. Bukan bertujuan dangkal untuk membuat IAICG sekedar organisasi gagah-gagahan bagi pengurusnya.

Secara de yure, ‘cendekia’ yang didengungkan berstandar internasional tak berbeda dengan pesantren & madrasah lainnya binaan Depag yang berserakan di seluruh nusantara. Tetapi secara de fakto, semua warga cendekia hendaknya membulatkan tekad bahwa ‘cendekia’ akan tetap, dan harus mempertahankan soul & spirit yang secara tersirat telah diamanahkan Habibie. Selama perjalanan institusi Cendekia ini hingga hari akhir, mencetak generasi-generasi emas di setiap zaman.

Amanah & kepemimpinan pasti dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Dan setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya masing-masing. Wassalam.

============================================================================

Bukan melihat pada siapa yang membawa,

tapi lihatlah pada apa yang dia bawa (pepatah)

RSS feed | Trackback URI

& Komentar »

Comment oleh mha5an
2008-09-24 22:46:43

Mantep Opininya!!

biar ga berujung seperti dengar ceramah (dilupakan tanpa realisasi), saya mohon bimbingan. Selaku WARGA yang GA PERNAH AKTIF dalam IKATAN ALUMNI, saya harus berbuat apa sekarang??

Apa hal konkrit yang bisa saya lakukan untuk organisasi ini? (Diluar jadi pengurus :) )

MERDEKA!!

 
Comment oleh isan_ics'08
2008-09-25 12:08:53

ya… sebuah opini yang bagus.. saya sangat setuju…

namun agak ‘aneh’ juga…

karena ‘alhamdulillah’ untuk iaic (aln serpong)…

sebagian besar ‘alumni’ masih ‘mau’ untuk peduli…

mungkin hal ini bisa dijadikan cermin kembali baik u/ iaicg…

ataupun jg iaic pusat… bahwa anggta iaic adalah seluruh alumni ic (tak terkecuali berasal dari ic-spg, ic-gnt, ic-alk, etc.)

krna harus diingat slalu… insan cendekia adalah ’satu’

 
Comment oleh dini
2008-09-26 15:54:27

Baru mo bagimana dang? Mo aktif di kegiatan alumni juga kayaknya depe kegiatan itu sendiri tdk jelas apa. Coba bikin program yg jelas. Soalnya kebanyakan kegiatan alumni cuman sekedar mengadakan acara ’silaturahmi’ yg isinya membahas gosip2 doang. Itu pun kalo bikin acara2 kyak begitu banyak yg sering tdk hadir (contohnya acara buka puasa bersama). Jadi mo bagimana? Pengurus ikatan alumni saja tdk jelas sapa (baik pengurus pusat atau daerah). Kalo mo tunggu fasilitas ‘pengembangan’ alumni dari skolah… kayaknya agak kurang efektif. Soalnya pihak sekolah (terutama kepsek) banyak juga urusan. Jadi… bagimana sebaiknya? tolong opini ini dipikirkan bersama-sama!

 
Comment oleh rusdin
2008-09-26 16:50:03

wah bagus juga nih pembahasan kali ini. terima kasih kepada yang sudah mau menulis opini ini. bagus! bagus sekali! saya sepakat, sangat sepakat kita nggak bisa terkotak-kotak.
ok, apa yang disampaikan saudari Dini harus jadi pertimbangan dan intropeksi kita semua. Kita pingin alumnus bersatu padu namun nyatanya memang susah mengumpulkan alumni. saya bisa memahaminya. karena semuanya pada sibuk. mengenai kejelasan kegiatan, itu perlu kita pikirkan bersama. saya pikir ka Onal mumpuni untuk hal tersebut. bagaimana ka Onal? setuju kan?
:)

 
Comment oleh Marion
2008-09-27 09:10:24

Insya Allah di acara halal bi halal, akan coba saya sampaikan kepada Ketua IAICG tentang pendapat-pendapat yang ada dalam tulisan ini.
Semua Bagus, Semua Benar.
:)

 
Comment oleh ophien
2008-09-28 19:52:57

Assalamu alaikum wr, wb….

bagi saya ini merupakan sebuah opini yang sangat objektif, dan seperti inilah realitanya…tinggal bagaimana kita menilai dan menyikapinya.

harus diakui memang agak kompleks permasalahan yang dihadapi oleh alumni saat ini. banyak yang menganggap bahwa IAICG sebagai organisasi yang tak jelas eksistensinya. karena sampe skarang tak ada program yang begitu mengena pada kepentingan2 alumni. belum lagi tersebarnya alumni yang sedikit menghambat usaha untuk kumpul bersama. dan masih banyak lagi permasalahannya seiring dengan terus bertambahnya alumni.

kalo saya menilai, masih banyak alumni yang tidak mengerti akan “roh & spirit” kenapa IAICG ini dibentuk. sebenarnya sangat simple, IAICG ini dibentuk karena keinginan untuk terus menjaga tali silaturrahim antar sesama alumni. persoalan lain yang muncul itu hanyalah turunan dari tujuan dibentuknya organisasi ini.

nah sekarang bagaimana kita menyikapi kondisi IAICG saat ini….???
saya pribadi, minimal untuk setiap alumni tetap menjaga spirit silaturrahim sehingga akan terbina jalinan atau hubungan persaudaraan di antara alumni. selain itu saya mohon kepada pengurus IAICG untuk lebih proaktif dalam menjalankan tugasnya dan juga kita semua sebagai anggota untuk ikut peduli dan merasa bertanggung jawab terhadap organisasi ini. saya yakin, kedepan kita bisa berbuat hal yang lebih nyata dan bermanfaat bukan hanya untuk alumni semata, tapi juga untuk masyarakat dan terlebih untuk agama kita. insyaAllah….

 
Comment oleh vhe
2008-09-29 01:29:33

LUAR BIASA….

aplos yg luar biasa wad si “penulis”

 
Comment oleh mhatoz
2008-10-06 00:03:37

membangun sebuah organisasi yang solid memang tidak semudah membalikkan telapak tangan…membutuhkan sebuah pengorbanan yang tidak sedikit bagi semua stockholder dari organisasi itu…diperlukan sebuah pemimpin yang strong and mau berjuang dengan tulus untuk menumbuhkan semangat perngorbanan itu….dan menurut saya seorang pemimpin itu yang belum dimiliki oleh alumni kita

 
Comment oleh ophien
2008-10-08 19:47:34

saya cuman mo tanggapi commentx “mhatoz”

saya sepakat kalo dibilang bahwa seorang pemimpin itu harus kuat “strong” dan mau berjuang dengan tulus untuk menumbuhkan semangat pengorbanan. Trus, katanya diantara alumni IC belum ada yang memiliki kapasitas seperti itu…Kalo yang satu ini saya kurang sepakat.
Karena mungkin belum lengkap database yang ada di pengurus IAICG, sehingga tidak menemukan sosok alumni yang punya kapasitas seperti tadi. Dan saya yakin di antara ratusan alumni IC, pastilah ada beberapa yang punya jiwa kepemimpinan seperti itu, malah mungkin lebih dari itu. Hal ini tidak berkaitan dengan disiplin ilmu yang digeluti semasa kuliah, tapi lebih pada berbagai proses pengkaderan maupun hal lain yang menunjang sebagai tahapan pembentukan watak kepemimpinan.
Saya sendiri telah melewati fase2 seperti itu, dan saya siap berbagi pengalaman & pengetahuan dengan teman2 semua….
Ini bukannya kampanye yaa….
cuman sedikit prihatin dengan keadaan alumni seperti yang digambarkan oleh sdr. mhatoz…

“Met Lebaran 4 all of You”

 
Comment oleh KOPEA
2008-11-04 09:37:20

###biar ga berujung seperti dengar ceramah (dilupakan tanpa realisasi), saya mohon bimbingan. Selaku WARGA yang GA PERNAH AKTIF dalam IKATAN ALUMNI, saya harus berbuat apa sekarang??
Apa hal konkrit yang bisa saya lakukan untuk organisasi ini? (Diluar jadi pengurus)###

RE:
Saudara mha5an, dengan menelorkan ide database alumni, Anda telah menjadi warga yang aktif memberikan sumbangsih bagi komunitas. Lanjutkanlah dengan mewujudkan ide itu hingga menjadi suatu produk. Tariklah bantuan orang2 yang dapat membantu. Berkorbanlah untuk ide pribadi Anda yang brilian ini. Lalu tunjukkanlah hasilnya dengan bangga sembari rendah hati kepada kita semua tanpa peduli dengan pro & kontra orang lain sebagai konsekuensi dari sebuah aktifitas.
Mungkin ide ini sederhana dan telah banyak yang memikirkannya lebih dulu untuk tujuan yang sama pula. Tapi kita semua percaya saudara mha5an beda. Anda memikirkan dan berbuat sesuatu untuk merealisasikannya. Insya Allah, semakin banyak yang meniru sikap ini, maka semakin mudah komunitas kita ini untuk berkembang dan maju.

“Mentalitas merealisasikan ide menjadi tindakan nyata”.

 
2009-04-16 17:25:28

[...] NB: HABIBIE, CENDEKIA, & ALUMNI, SEBUAH EFEK DOMINO. [...]

 
Nama (wajib)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Komentar Anda (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.